Pascapenertiban 219 Lapak Bantaran Setu Babakan, Pedagang Keluhkan Sepi Pengunjung

Minggu 25 Okt 2026, 11:50 WIB
Kawasan wisata Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, setelah direlokasi, Sabtu, 24 Oktober 2026. (Sumber: Poskota/Angga Pahlevi)
Kawasan wisata Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, setelah direlokasi, Sabtu, 24 Oktober 2026. (Sumber: Poskota/Angga Pahlevi)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Kawasan wisata Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, mendadak sepi pengunjung pascapenertiban 219 bangunan pedagang di bantaran danau.

Berdasarkan pantauan Poskota di lokasi, Sabtu, 24 Oktober 2026, sisa material pembongkaran serta spanduk larangan berjualan masih terpasang di sepanjang gorong-gorong pintu gerbang timur.

Deni alias Bokir (44), pedagang warkop yang digusur setelah 20 tahun berjualan, mengaku pasrah atas kondisi tersebut.

"Saya akui melanggar aturan berdiri di atas gorong-gorong. Namun, imbas pembongkaran ini membuat pedagang kehilangan mata pencarian dan pengunjung turun drastis," kata Bokir kepada Poskota, Sabtu, 24 Oktober 2026.

Baca Juga: Relokasi 200 PKL Stasiun Tangerang Menggantung, Pedagang Masih Padati Lapak Jualan

Bokir membeberkan kapasitas Lokasi Binaan (Lokbin) Setu Srengseng yang disiapkan pemerintah baru mampu menampung sekitar 60 unit usaha.

Jumlah tersebut dinilai tidak memadai jika dibandingkan dengan total 216 lebih pedagang terdampak yang mayoritas merupakan warga asli Betawi.

Selain luasnya tergolong sempit, fasilitas lokasi baru dianggap kurang nyaman sehingga memicu desakan evaluasi dari para pelaku usaha mikro.

"Kapasitas lokbin terbatas, suasananya panas dan kecil. Banyak pedagang yang stress karena bingung membayar cicilan modal usaha," ujarnya.

Baca Juga: Relokasi PKL Stasiun Tangerang Dimulai 14 Oktober 2026, 200 Lebih Pedagang Bakal Pindah ke Pasar Anyar

Pemilik Lahan Pribadi Dukung Pembongkaran Demi Keasrian Kawasan Wisata

Berbeda dengan para pedagang bantaran, Sulamno (62), purnawirawan TNI pemilik lahan seluas 1.747 meter persegi di area Setu Babakan, mendukung penuh langkah Pemkot Jakarta Selatan.

Sulamno menegaskan lahan miliknya berstatus tanah pribadi bersertifikat, bukan aset daerah, sehingga tidak tersentuh pembongkaran fasilitas umum.

Ia menyetujui penertiban tujuh bangunan usaha tanpa sewa di atas tanahnya agar kawasan wisata Betawi menjadi lebih tertata rapi.

"Setelah ditertibkan, Perkampungan Budaya Betawi jadi lebih rapi dan tidak kumuh. Dokumen kepemilikan lahan saya juga resmi bukan aset Pemda," ucapnya.

Wakil Wali Kota Jakarta Selatan, Firmanuddin Ibrahim menegaskan penataan ini bertujuan mengembalikan fungsi Setu Babakan sebagai destinasi budaya Betawi yang tertata.

Dari hasil kurasi sementara, Pemprov Jakarta menyaring 63 pedagang untuk menempati fasilitas Lokbin resmi secara bertahap.

Kasatpol PP Jakarta Selatan, Nanto Dwi Subekti mengapresiasi 219 pedagang yang secara kooperatif membongkar mandiri bangunan mereka dengan bantuan armada angkutan gratis.

"Penertiban berjalan kondusif dengan pendekatan humanis. Pembenahan dilanjutkan pada perbaikan saluran air, jalan, dan fasilitas wisata melalui APBD," pukas Firmanuddin.


Berita Terkait


News Update