BNPB Gunakan Citra Satelit dan Modifikasi Cuaca untuk Tangani Karhutla, Ini 5 Provinsi Prioritas

Sabtu 24 Okt 2026, 12:37 WIB
BNPB mengoptimalkan pemantauan citra satelit dan berkoordinasi dengan BMKG untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan di lima provinsi prioritas. (Sumber: BNPB)
BNPB mengoptimalkan pemantauan citra satelit dan berkoordinasi dengan BMKG untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan di lima provinsi prioritas. (Sumber: BNPB)

POSKOTA.CO.ID - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan memanfaatkan citra satelit, mengerahkan personel, serta melakukan modifikasi cuaca. Langkah ini dilakukan untuk membantu mengendalikan kebakaran sekaligus mengurangi dampak asap terhadap masyarakat.

Lima provinsi menjadi prioritas penanganan, yakni Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat. BNPB mencatat peningkatan karhutla di Sumatera Selatan dan Jambi, meskipun kenaikannya dinilai belum terlalu signifikan.

Kepala BNPB Kristomei Sianturi menyampaikan perkembangan tersebut dalam sidang kabinet paripurna di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam keterangannya pada Jumat, 23 Oktober 2026, ia juga menjelaskan upaya pembaruan metode pemantauan area terbakar.

Baca Juga: Prabowo Terapkan Ekspor Satu Pintu lewat Danantara, Ini Tujuan dan Tantangannya

BNPB Perbaiki Pemantauan Karhutla dengan Citra Satelit

Pemantauan kebakaran menjadi salah satu aspek penting dalam penanganan karhutla. BNPB berupaya meningkatkan akurasi penghitungan luas area terbakar dengan memanfaatkan citra satelit.

“Izin Bapak Presiden melaporkan, sejak kami dilantik per tanggal 15 Oktober 2026 kami terus mengambil langkah memperbaiki metode penghitungan dengan menggunakan citra satelit,” ujar Kristomei.

Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan membantu petugas memetakan wilayah terdampak dan menentukan prioritas penanganan. Data satelit juga dapat mendukung pemantauan titik panas, meskipun keberadaan titik panas tetap perlu ditindaklanjuti untuk memastikan kondisi kebakaran di lapangan.

Modifikasi Cuaca Dilakukan untuk Mengurangi Dampak Asap

Selain pemantauan, BNPB berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk melakukan modifikasi cuaca. Salah satu metode yang disampaikan adalah penyemaian dry ice atau es kering untuk membantu mengubah kondisi atmosfer ketika lapisan inversi membuat asap terperangkap.

Menurut Kristomei, lapisan inversi tersebut dapat menyebabkan asap tertahan pada ketinggian sekitar 6.000–7.000 kaki. Setelah kondisi atmosfer berubah, sinar matahari diharapkan dapat menembus lapisan tersebut dan mendukung proses penguapan serta pembentukan awan.

Tahap selanjutnya dilakukan melalui penyemaian awan menggunakan natrium klorida (NaCl) untuk membantu memicu hujan. Efektivitas upaya ini bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang sesuai.

Penyemaian Es Kering dan Perubahan Jarak Pandang

Kristomei melaporkan penyemaian es kering telah dilakukan di sejumlah wilayah. Berikut rincian yang disampaikan BNPB:

  • Penyemaian sejak 20 Oktober: Sebanyak 3.100 kilogram es kering dengan lima sorti.
  • Penyemaian di Sumatera Selatan: Sebanyak 800 kilogram es kering dalam satu sorti.
  • Penurunan partikulat udara: BNPB melaporkan adanya penurunan partikulat, termasuk PM2,5.
  • Peningkatan jarak pandang: Jarak pandang di Palembang dilaporkan meningkat dari 700 meter menjadi 7.000 meter.

Koordinasi lintas instansi: BNPB bekerja sama dengan BMKG dan pihak terkait untuk mendukung pemantauan serta penanganan karhutla.

Meski perubahan jarak pandang tersebut menjadi perkembangan yang dilaporkan, pengukuran lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan besarnya kontribusi modifikasi cuaca terhadap kondisi udara.

Baca Juga: Resmi Dilantik, Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja Targetkan Berobat Gratis dan UHC Prioritas

Lima Provinsi Menjadi Prioritas Penanganan Karhutla

Penanganan karhutla tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kesiapan personel di lapangan. BNPB mengapresiasi keterlibatan TNI-Polri, Manggala Agni, dan masyarakat dalam upaya pemadaman.

Sinergi tersebut diperlukan agar kebakaran dapat ditangani lebih cepat dan dampaknya terhadap permukiman maupun kesehatan masyarakat dapat ditekan.

Ke depan, BNPB akan terus mengoptimalkan pemantauan satelit, koordinasi dengan BMKG, dan upaya penanganan di wilayah prioritas. Perkembangan titik panas, luas area terbakar, serta kualitas udara tetap perlu dipantau untuk melihat efektivitas langkah yang dilakukan.

Dengan kombinasi teknologi dan penanganan langsung, pemerintah berupaya mengendalikan karhutla sekaligus mengurangi risiko kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat.


Berita Terkait


News Update