Hampir 10 Tahun Kekurangan Ruang Kelas, Siswa SDN Banjarwangi Pandeglang Belajar di Musala dan Perpustakaan

Selasa 20 Okt 2026, 21:42 WIB
Para siswa SDN Banjarwangi, Kabupaten Pandeglang, Banten, saat belajar di lantai. (Sumber: Dok. Istimewa)
Para siswa SDN Banjarwangi, Kabupaten Pandeglang, Banten, saat belajar di lantai. (Sumber: Dok. Istimewa)

PANDEGLANG, POSKOTA.CO.ID - Siswa SDN Banjarwangi, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pandeglang, Banten, terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar di tempat tidak layak.

Kepala SDN Banjarwangi, Alis Syarah mengatakan kondisi tersebut sudah terjadi sejak masa kepemimpinan kepala sekolah sebelumnya selama empat tahun terakhir.

"Saya menjabat kepala sekolah SDN Banjarwangi sudah empat tahun. Siswa belajar di musala dan perpustakaan sejak kepala sekolah sebelumnya. Diperkirakan sudah berjalan 10 tahun," kata Alis kepada wartawan, Selasa, 20 Oktober 2026.

Alis menjelaskan terdapat tiga rombongan belajar yang menggunakan ruangan selain ruang kelas. Siswa kelas satu dan kelas dua yang mengikuti pembelajaran pada siang hari menggunakan musala, sedangkan siswa kelas empat belajar di perpustakaan.

Baca Juga: Pandeglang Daerah dengan Perokok Harian Terbanyak di Banten, Tembus 37,88 Persen

Selain keterbatasan ruangan, sebagian siswa juga terpaksa belajar tanpa menggunakan meja dan kursi karena fasilitas tersebut mengalami kerusakan. Bahkan, kegiatan belajar mengajar juga dilakukan di teras sekolah.

"Di teras belajarnya juga, tidak menggunakan meja dan kursi karena rusak," ujarnya.

Menurut Alis, SDN Banjarwangi memiliki sekitar 400 siswa, sementara ruang kelas yang tersedia hanya 12 ruang. Jumlah tersebut dinilai belum mampu menampung seluruh siswa yang mengikuti kegiatan belajar mengajar.

"Masih kekurangan kelas karena siswanya di Banjarwangi paling banyak," ucapnya.

Baca Juga: Wacana Gaji PNS Disalurkan lewat Kopdes, Pemkab Pandeglang Tunggu Aturan Pusat

Ia menambahkan, sekolah tersebut sebenarnya telah mendapatkan bantuan program revitalisasi dengan pembangunan enam ruang kelas. Namun, jumlah bantuan itu belum mencukupi kebutuhan sekolah.

Menurutnya, pihak sekolah sebelumnya mengajukan revitalisasi untuk 12 ruang kelas, tetapi hanya enam ruang yang disetujui. Selain kekurangan ruang kelas, sejumlah bangunan yang ada mulai mengalami kerusakan.

"Revitalisasi dapat enam kelas, pengajuan 12 kelas, yang di-ACC enam. Bangunan yang ada sekarang juga sudah mulai rusak, ruang untuk guru juga terbatas," tuturnya.

Dengan kondisi tersebut, pihak sekolah masih membutuhkan tambahan ruang kelas serta perbaikan sarana dan prasarana agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung lebih nyaman dan layak bagi para siswa.

"Kami harap pemerintah dapat menambah lagi pembangunan ruang kelas, karena di sini masih kekurangan," harapnya.

Sementara, Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar, Dindikpora Pandeglang, Rifa'i telah melakukan asesmen ke SDN Banjarwangi. Dalam asesmen itu, pihaknya mengakui bahwa SDN Banjarwangi kekurangan tiga ruang kelas.

"Yang pertama untuk Banjarwangi kemarin Alhamdulillah saya dapat info dari (detikcom) langsung kunjungan ke sekolah. Memang dari awal itu kaitan jumlah Rombel (rombongan belajar) di Banjarwangi kekurangan ruang tiga kelas," katanya.

Rifa'i mengatakan meski SDN Banjarwangi sudah mendapatkan bantuan revitalisasi sekolah dari pemerintah pusat, namun belum bisa menyelesaikan persoalan yang ada.

Menurutnya, SDN Banjarwangi hanya mendapatkan bantuan 6 ruang kelas, sehingga siswa terpaksa belajar di Musala dan Perpustakaan.

"Kebutuhan ruang kelas ada tiga kelas, sementara kegiatan tersebut sedang mengalami dilakukan revitalisasi, cuman revitalisasi tidak tuntas seluruh ruang kelas, hanya ada 6 ruang kelas yang terintervensi," ujar dia.

Ia memastikan penanganan terhadap Perpustakaan yang mengalami kerusakan cukup parah akan dilakukan. Pembangunan itu rencana dilakukan pada tahun depan.

"Yang mengkhawatirkan yang belum terintervensi ruang Perpustakaan dan Musala. Kami coba nanti petakan di awal tahun anggaran baru karena kami melihat urgent perlu kita dorong diperbaiki untuk ruangan Perpustakaan," ucapnya.

Terkait ruang kelas baru (RKB), ia berencana membuat skema membangun kelas dengan struktur bangunan lantai dua. Namun rencana itu masih melihat potensi anggaran yang tersedia dari APBD Pandeglang.

"Palingan solusinya kalau anggarannya ada di Pemkab Pandeglang, kita mencoba perbaikan ruang kelas dengan menggunakan struktur untuk lantai dua," tandasnya.


Berita Terkait


News Update