POSKOTA.CO.ID - “Evaluasi harus dilakukan dengan penuh keterbukaan dan kejujuran. Tidak harus menutup mata atas capaian, terlebih telah dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Tidak pula sungkan menyampaikan kritik terhadap pekerjaan yang belum menghasilkan perubahan seperti dijanjikan.” - Harmoko -
Jelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada 20 Oktober 2026, beragam isu mencuat. Mulai dari tingkat kepercayaan publik sebagaimana hasil survei sejumlah lembaga hingga yang teraktual isu pemakzulan Wapres menyusul putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait ijazah SMA Gibran.
Isu soal pemakzulan ini diduga akan terus menggelinding mewarnai perjalanan tiga tahun pemerintahan, meski tidak terkait langsung dengan Prabowo, tetapi tak sedikit yang berharap Presiden turun tangan. Setidaknya statement dalam menyikapi keadaan, merespon dinamika politik yang berkembang.
Peluit pemakzulan kini berada di tangan DPR.Ditiup untuk melaju menapaki proses konstitusi atau sementara disimpan sebagai alat negosiasi politik jelang Pemilu 2029? Jawabnya masih menunggu waktu.
Baca Juga: Kopi Pagi: Lagi, Polemik Ambang Batas
Multitafsir boleh berkembang, tetapi menapaki tahun ketiga pemerintahan ,mulai 21 Oktober 2026, lazimnya menjadi titik krusial bulan madu koalisi. Akan terus menyatu dalam satu atap hingga akhir “kontrak pernikahan politik” tahun 2029 atau mulai berpindah ke lain hati? Jawabnya pun masih menunggu dinamika politik yang akan terjadi.
Dinamika dimaksud di antaranya seberapa besar tingkat kepercayaan dan kepuasan publik terhadap pemerintah di tahun ketiga itu. Kian menguat atau sebaliknya menurun. Jika terus menguat, setidaknya konstan, membuka peluang koalisi berlanjut pada pemilu mendatang.
Jika terus merosot, upaya membangun koalisi permanen kian menghadapi tantangan, meski diyakini koalisi yang ada sekarang akan tetap solid hingga satu periode pemerintahan. Ini komitmen politik membangun koalisi.
Bahwa alternatif politik mulai disiapkan oleh masing – masing parpol, termasuk yang tergabung dalam koalisi, sulit terbantahkan sebagai upaya membangun konsolidasi. Bahwa nantinya akan terbangun koalisi baru adalah keniscayaan setelah melihat hasil pilpres dan pemilu mendatang.
Baca Juga: Kopi Pagi: Tiada Henti Mereformasi Birokrasi
Dinamika lain yang patut dilirik adalah kian derasnya kritikan ataukah semakin merebaknya pujian.
Secara internal, dua tahun pemerintahan merupakan waktu yang tepat untuk mengevaluasi secara total apakah tata kelola kelembagaan sudah sebagaimana diharapkan, sesuai visi dan misi.
Apakah seluruh program pembangunan sudah dalam kondisi “on the track” menuju target seperti diharapkan- Indonesia berdaulat, adil dan makmur.
Reshuffle kabinet di awal bulan Oktober ini bagian dari evaluasi menuju lebih baik lagi sebagaimana kehendak rakyat yang disampaikan melalui saran dan kritikan.
Baca Juga: Kopi Pagi: Mengisi Kemerdekaan Tiada Akhir
Kocok ulang kabinet, pembentukan lembaga dan badan baru bentuk merespons kehendak publik.
Yang lebih dibutuhkan sekarang adalah meningkatkan, setidaknya mempertahankan kepercayaan dan kepuasan publik di atas 70 persen.
Sementara kita tahu, di dua tahun pemerintahan, keberhasilan tak lagi cukup diumumkan, tapi dampak langsung yang dirasakan oleh masyarakat.
Kegagalan atau kekurangan tak lagi mudah disembunyikan, terlebih ditutup- tutupi karena rakyat mulai membandingkan apa yang dijanjikan dengan apa yang mereka rasakan.
Baca Juga: Kopi Pagi: Menuju Adil dan Makmur (3)
Ini menuntut evaluasi secara jernih dan transparan terhadap kekurangan, begitupun publik tak harus menutup mata memberikan apresiasi atas keberhasilan.
Memasuki dua tahun pemerintahan, perekonomian Indonesia menunjukkan kinerja yang relatif stabil dan berada pada arah yang positif. Di tengah dinamika ekonomi global, pemerintah mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen sekaligus mendorong investasi dan memperbaiki sejumlah indikator kesejahteraan masyarakat.
Itu tercermin dari realisasi investasi yang menyerap jutaan tenaga kerja, inflasi terkendali dan penurunan angka kemiskinan.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG), pemeriksaan kesehatan, dan penguatan pendidikan layak diapresiasi karena berangkat dari persoalan yang nyata, menyiapkan sumber daya manusia sehat, cerdas, berkualitas dan berintegritas menuju Indonesia Emas.
Baca Juga: Kopi Pagi: Menuju Adil dan Makmur (2)
Swasembada pangan nyata juga adanya guna memperkuat ketahanan negara.
Meski begitu, keberhasilan tak cukup diukur dari angka – angka,tidak berhenti pada jangkauan administratif, tetapi berlanjut menjadi peningkatan kualitas hidup.
Keberhasilan pangan tidak cukup diukur melalui angka produksi nasional. Harga yang terjangkau, pendapatan petani, produktivitas lahan, ketersediaan air, dan ketahanan terhadap perubahan iklim juga harus menjadi bagian dari evaluasi.
Memasuki tiga tahun pemerintahan, semua program prioritas harus lebih disinkronkan dan difokuskan untuk memberi manfaat nyata dan langsung dirasakan masyarakat semua kalangan.
Baca Juga: Kopi Pagi: Menyiapkan Generasi Emas
Swasembada yang meningkatkan produksi tetapi tidak memperbaiki kesejahteraan petani akan menyisakan persoalan besar.
Pertumbuhan perlu diikuti oleh penciptaan pekerjaan produktif, peningkatan upah riil, perluasan kesempatan berusaha, dan distribusi manfaat pembangunan yang lebih merata.
Ketika masyarakat masih merasakan kenaikan harga kebutuhan pokok, kian merosotnya pendapatan, masih sulitnya mencari pekerjaan, menghadapi tekanan biaya hidup untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari. gambaran masih ada yang perlu dikoreksi dan diperbaiki.
Evaluasi harus dilakukan dengan penuh keterbukaan dan kejujuran. Kita tidak harus menutup mata atas keberhasilan, terlebih telah dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Tidak pula sungkan menyampaikan kritik terhadap pekerjaan yang belum menghasilkan perubahan seperti dijanjikan, seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.
Satu catatan, memasuki tahun ketiga pemerintahan Presiden Prabowo, kian menghadapi segala dinamika, baik politik, ekonomi, sosial dan keamanan. Fenomena akan kian kasat mata, Meski begitu, “Kapal Indonesia 08” harus terus melaju di tengah rintangan yang kian membentang, derasnya hempasan ombak yang semakin kencang, dan kemungkinan badai menghadang.
Kapal besar harus terus berlayar hingga berlabuh ke akhir tujuan dengan selamat sentosa bersama seluruh penumpangnya tanpa terkecuali, guna menapaki tata kehidupan baru yang lebih sehat, sejahtera, adil dan makmur. Semoga.
