Secara internal, dua tahun pemerintahan merupakan waktu yang tepat untuk mengevaluasi secara total apakah tata kelola kelembagaan sudah sebagaimana diharapkan, sesuai visi dan misi.
Apakah seluruh program pembangunan sudah dalam kondisi “on the track” menuju target seperti diharapkan- Indonesia berdaulat, adil dan makmur.
Reshuffle kabinet di awal bulan Oktober ini bagian dari evaluasi menuju lebih baik lagi sebagaimana kehendak rakyat yang disampaikan melalui saran dan kritikan.
Baca Juga: Kopi Pagi: Mengisi Kemerdekaan Tiada Akhir
Kocok ulang kabinet, pembentukan lembaga dan badan baru bentuk merespons kehendak publik.
Yang lebih dibutuhkan sekarang adalah meningkatkan, setidaknya mempertahankan kepercayaan dan kepuasan publik di atas 70 persen.
Sementara kita tahu, di dua tahun pemerintahan, keberhasilan tak lagi cukup diumumkan, tapi dampak langsung yang dirasakan oleh masyarakat.
Kegagalan atau kekurangan tak lagi mudah disembunyikan, terlebih ditutup- tutupi karena rakyat mulai membandingkan apa yang dijanjikan dengan apa yang mereka rasakan.
Baca Juga: Kopi Pagi: Menuju Adil dan Makmur (3)
Ini menuntut evaluasi secara jernih dan transparan terhadap kekurangan, begitupun publik tak harus menutup mata memberikan apresiasi atas keberhasilan.
Memasuki dua tahun pemerintahan, perekonomian Indonesia menunjukkan kinerja yang relatif stabil dan berada pada arah yang positif. Di tengah dinamika ekonomi global, pemerintah mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen sekaligus mendorong investasi dan memperbaiki sejumlah indikator kesejahteraan masyarakat.
Itu tercermin dari realisasi investasi yang menyerap jutaan tenaga kerja, inflasi terkendali dan penurunan angka kemiskinan.
