Efek Telur Mentah untuk Bayi Baru Lahir Apa? Jadi Sorotan karena Kisah Alena di Surabaya

Minggu 11 Okt 2026, 18:28 WIB
Efek telur mentah untuk bayi menjadi perbincangan setelah kabar Alena di Surabaya viral. (Sumber: Magnific/azerbaijan_stockers)
Efek telur mentah untuk bayi menjadi perbincangan setelah kabar Alena di Surabaya viral. (Sumber: Magnific/azerbaijan_stockers)

POSKOTA.CO.ID - Efek telur mentah untuk bayi baru lahir menjadi perhatian publik setelah kisah Alena, bayi berusia 24 hari di Surabaya, ramai diperbincangkan di media sosial.

Bayi tersebut dikabarkan sempat diberikan telur mentah oleh neneknya karena dipercaya dapat membantu menurunkan demam.

Kisah tragis yang menimpa Alena mengundang keprihatinan masyarakat, terutama karena bayi yang baru berusia beberapa minggu masih berada dalam tahap perkembangan yang sangat rentan.

Pada usia tersebut, sistem kekebalan tubuh bayi belum berkembang sempurna sehingga paparan kuman dari makanan atau lingkungan dapat menimbulkan risiko kesehatan serius.

Berdasarkan informasi yang beredar di media sosial, Alena sempat menjalani perawatan di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.

Kondisinya disebut memburuk sebelum akhirnya muncul kabar duka mengenai kepergiannya.

Peristiwa itu sendiri menjadi sorotan setelah seorang pengguna Threads dengan akun @calistaarisha membagikan cerita mengenai kondisi Alena dan persoalan yang terjadi di lingkungan keluarganya.

Pengunggah yang disebut sebagai adik kandung ibu Alena itu mengungkapkan kekecewaannya terhadap tindakan nenek dari pihak ayah yang memberikan telur mentah kepada bayi tersebut.

Dalam unggahannya, ibu Alena juga menyampaikan bahwa dirinya tidak ingin memperpanjang persoalan keluarga karena saat itu lebih memprioritaskan kesembuhan anaknya.

"Aku minta maaf, aku nggak mau memperpanjang masalah mertua lagi. Urusan benar salah sudah nggak penting buatku, Yang aku mau sekarang cuma anakku sembuh, sehat dan bisa pulang lagi. Biarkan aku tenang," tulisnya.

Dalam perkembangan lebih lanjut yang dibagikan melalui media sosial, diinformasikan bahwa Alena telah meninggal dunia.

"Untuk permasalahan keluarga sudah kami tindak lanjuti, mohon doa untuk Alena di surga," tandasnya.

Lantas, apa saja efek telur mentah untuk bayi baru lahir? Simak informasi selengkapnya berikut ini.

Baca Juga: Harga Cabai Rawit Tembus Rp100 Ribu per Kg, Pelaku UMKM Terancam Gulung Tikar

Efek Telur Mentah untuk Bayi Baru Lahir Apa?

Dikutip dari kanal YouTube Fakta Plus, pada Minggu, 11 Oktober 2026, pembahasan mengenai telur mentah berkaitan dengan anggapan bahwa bahan pangan tersebut dapat memberikan manfaat tertentu bagi tubuh.

Namun, untuk bayi baru lahir, pemberian telur mentah bukanlah cara yang aman untuk memenuhi kebutuhan nutrisi maupun mengatasi demam.

Telur memang dikenal sebagai sumber protein hewani yang mengandung berbagai zat gizi, seperti vitamin, mineral, lemak, dan kolin.

Pada orang dewasa, telur dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang apabila diolah secara tepat.

Akan tetapi, manfaat gizi telur tidak berarti semua kelompok usia dapat mengonsumsinya dalam bentuk yang sama.

Bayi baru lahir memiliki kebutuhan nutrisi khusus dan belum siap menerima makanan padat ataupun bahan pangan mentah.

Pada masa awal kehidupan, kebutuhan nutrisi bayi dipenuhi melalui ASI atau susu formula yang sesuai dengan kondisi dan anjuran tenaga kesehatan.

Pemberian makanan lain tanpa arahan medis dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Berikut beberapa efeknya:

1. Risiko Infeksi Bakteri Salmonella

Salah satu bahaya utama konsumsi telur mentah adalah kemungkinan terpapar bakteri Salmonella.

Bakteri ini dapat mencemari telur melalui berbagai jalur, termasuk permukaan cangkang dan bagian dalam telur.

Kontaminasi tidak selalu dapat diketahui melalui penampilan telur. Telur yang terlihat bersih dan tidak berbau belum tentu bebas dari bakteri berbahaya.

Apabila telur yang terkontaminasi dikonsumsi, bakteri dapat masuk ke saluran pencernaan dan menyebabkan infeksi.

Pada bayi, kondisi ini perlu mendapat perhatian lebih besar karena sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang.

Menurut WHO, infeksi Salmonella umumnya ditandai dengan diare, demam, sakit perut, mual, dan terkadang muntah.

Gejala biasanya mulai muncul dalam rentang enam hingga 72 jam setelah paparan, meskipun waktu kemunculannya dapat bervariasi sesuai jenis bakteri dan kondisi individu.

Pada bayi baru lahir, infeksi tidak selalu menunjukkan gejala yang sama seperti pada orang dewasa.

Perubahan perilaku, kesulitan menyusu, tubuh tampak lemas, atau perubahan suhu tubuh dapat menjadi tanda bahwa bayi membutuhkan pemeriksaan medis segera.

Karena itu, orang tua tidak disarankan menunggu sampai gejala berkembang menjadi berat untuk mencari pertolongan.

2. Dapat Memicu Diare, Muntah, dan Dehidrasi

Infeksi yang berasal dari makanan terkontaminasi dapat menyebabkan gangguan pencernaan.

Diare dan muntah merupakan dua gejala yang perlu diwaspadai apabila bayi mengalami infeksi saluran cerna.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan dan elektrolit.

Pada bayi baru lahir, kehilangan cairan dalam jumlah relatif kecil sekalipun dapat berkembang menjadi masalah serius karena cadangan cairan tubuhnya masih terbatas.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menjelaskan bahwa anak berusia di bawah lima tahun lebih rentan mengalami penyakit bawaan makanan.

Keracunan makanan pada kelompok ini dapat berbahaya karena berpotensi menimbulkan diare dan dehidrasi.

Risiko tersebut menjadi alasan penting mengapa bayi tidak boleh diberikan telur mentah sebagai makanan tambahan.

Jika bayi mengalami diare, muntah, kesulitan menyusu, buang air kecil berkurang, atau tampak sangat lemas, orang tua perlu segera mencari bantuan medis.

Jangan memberikan obat antidiare, ramuan tradisional, atau bahan makanan tertentu tanpa arahan tenaga kesehatan.

3. Infeksi Dapat Berkembang Menjadi Kondisi Serius

Pada sebagian orang, infeksi Salmonella dapat membaik tanpa komplikasi.

Namun, pada bayi dan kelompok dengan daya tahan tubuh yang belum optimal atau terganggu, infeksi berpotensi menimbulkan penyakit yang lebih berat.

Dalam kasus tertentu, bakteri dapat menyebar keluar dari saluran pencernaan dan memasuki aliran darah.

Kondisi itu sendiri dapat menyebabkan infeksi invasif yang membutuhkan perawatan medis intensif.

WHO menyebutkan, infeksi Salmonella dapat mengancam jiwa dalam kasus tertentu, terutama pada kelompok rentan seperti anak kecil dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Namun, risiko tersebut tidak berarti setiap bayi yang terpapar telur mentah pasti mengalami infeksi berat.

Dampaknya bergantung pada ada atau tidaknya kontaminasi, jumlah bakteri yang masuk, serta kondisi kesehatan bayi.

Dalam kasus Alena, informasi mengenai pemberian telur mentah dan kondisi kritisnya tidak cukup untuk menetapkan hubungan sebab-akibat.

Kesimpulan medis mengenai penyebab penyakit maupun kematian harus merujuk pada hasil pemeriksaan dan keterangan tenaga medis yang menangani pasien.

4. Telur Mentah Tidak Terbukti Dapat Menurunkan Demam Bayi

Anggapan bahwa telur mentah dapat membantu menurunkan demam perlu diluruskan.

Telur merupakan bahan pangan yang mengandung protein dan zat gizi lain, tetapi bukan obat penurun panas.

Tidak ada dasar yang cukup untuk menjadikan telur mentah sebagai cara mengatasi demam pada bayi baru lahir.

Pemberian bahan pangan tersebut justru menambahkan risiko paparan bakteri tanpa manfaat pengobatan yang terbukti.

Demam pada bayi berusia kurang dari tiga bulan merupakan kondisi yang memerlukan perhatian khusus.

Suhu tubuh 38 derajat Celsius atau lebih pada bayi dalam kelompok usia ini perlu segera dievaluasi oleh tenaga medis, meskipun bayi tampak tidak terlalu rewel.

Orang tua sebaiknya tidak menunda pemeriksaan dengan mencoba pengobatan rumahan yang belum terbukti aman.

Bayi juga tidak boleh diberikan obat penurun panas tanpa arahan dokter, terutama pada usia yang masih sangat muda.

Jika bayi mengalami demam, langkah yang tepat adalah segera menghubungi fasilitas kesehatan atau membawa bayi ke unit gawat darurat untuk mendapatkan penilaian medis.

5. Bayi Baru Lahir Belum Boleh Diberi Makanan Tambahan Sembarangan

Pada usia 24 hari, bayi masih termasuk neonatus atau bayi baru lahir.

Pada tahap ini, sistem pencernaan dan kekebalan tubuh masih mengalami perkembangan sehingga pemenuhan nutrisi harus mengikuti rekomendasi kesehatan bayi.

ASI eksklusif dianjurkan selama enam bulan pertama kehidupan. Apabila ASI tidak dapat diberikan atau terdapat kondisi medis tertentu, penggunaan susu formula yang sesuai harus mengikuti arahan tenaga kesehatan.

Makanan pendamping ASI pada umumnya baru mulai diberikan ketika bayi berusia sekitar enam bulan, dengan memperhatikan kesiapan perkembangan dan rekomendasi tenaga kesehatan.

Karena itu, pemberian telur mentah kepada bayi berusia kurang dari satu bulan tidak sesuai dengan anjuran pemberian makan bayi.

Telur maupun makanan lain tidak boleh diberikan sebagai pengganti ASI atau susu formula pada usia tersebut.

Keluarga juga perlu berhati-hati terhadap kebiasaan turun-temurun yang belum memiliki dasar medis.

Saran dari orang yang lebih tua dapat menjadi bagian dari pengalaman keluarga, tetapi keputusan terkait kesehatan bayi tetap harus mempertimbangkan bukti medis dan kondisi anak.

6. Telur Matang Pun Bukan untuk Bayi Berusia 24 Hari

Telur yang dimasak hingga matang memiliki risiko kontaminasi bakteri yang lebih rendah dibandingkan telur mentah.

Namun, hal tersebut tidak berarti telur matang boleh langsung diberikan kepada bayi baru lahir.

Persoalan utamanya bukan hanya cara pengolahan, melainkan juga usia dan kesiapan bayi untuk menerima makanan.

Pada usia 24 hari, kebutuhan nutrisi bayi tetap dipenuhi melalui ASI atau susu formula yang sesuai.

Ketika bayi sudah siap menerima makanan pendamping ASI pada usia yang dianjurkan, telur matang dapat diperkenalkan sebagai salah satu sumber protein dengan tekstur yang sesuai dan memperhatikan kemungkinan alergi.

Untuk makanan yang menggunakan telur tanpa proses pemasakan sempurna, penggunaan telur yang telah dipasteurisasi dapat mengurangi risiko mikrobiologis.

Namun, produk tersebut tetap tidak sesuai untuk diberikan kepada bayi baru lahir.


Berita Terkait


News Update