JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Lonjakan harga cabai rawit merah hingga Rp100 ribu per kg di pasar tradisional Jakarta mulai memukul kehidupan para pelaku UMKM kuliner dan pedagang makanan skala kecil.
Pertambahan harga bahan baku utama masakan ini memaksa para pedagang bertahan dengan keuntungan yang kian menipis demi menjaga kepuasan para pelanggan harian.
Pedagang bubur ayam di kawasan Kebayoran Lama, Rini (35) memilih tidak menaikkan harga porsi dagangannya meski harga cabai rawit melonjak tajam.
"Kalau harga porsi dinaikkan, pembeli bakal lari dan jualan makin sepi. Biarlah untung tipis yang penting pelanggan tetap bertahan," kata Rini saat berbelanja di Pasar Kebayoran Lama, Minggu, 11 Oktober 2026.
Baca Juga: Pengamat Sebut El Nino hingga Biaya Pakan Ternak Picu Harga Bahan Pokok Naik
Omzet Catering Anjlok 20 Persen
Dampak lebih berat dirasakan para pengusaha katering rumah tangga yang sangat bergantung pada pasokan cabai segar untuk berbagai porsi masakan pesanan.
Pemilik usaha katering di Pesanggrahan, Hj. Chusnul Chotimah alias Budeh Nunung, membeberkan bahwa lonjakan harga dari Rp70 ribu menjadi Rp100 ribu per kilo telah memangkas omzetnya hingga 20 persen.
Tinggi dan mahalnya biaya belanja bahan baku membuat pengusaha kuliner mikro kini kesulitan mengamankan marjin keuntungan operasional.
"Bisa balik modal saja sudah bersyukur. Harga sembako naik terus bikin usaha tidak bisa ambil untung, pas-pasan sekali," ungkap Budeh Nunung.
Baca Juga: Mendag Pastikan Pemerintah Pantau Pasokan dan Harga Bahan Pokok di Tengah Lonjakan
Minta Pemerintah Jangan Hanya Fokus Program MBG
Nunung berharap Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta dan pemerintah pusat segera memberi perhatian nyata serta intervensi harga bahan pokok bagi para pelaku usaha mikro.
