JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Malam baru saja memasuki waktu shalat Isya ketika teriakan dari luar rumah membuat Warinah terbangun. Perempuan asal Brebes itu semula hanya ingin beristirahat sejenak sembari menunggu adzan, sementara dua anak dan cucunya berada di dalam rumah.
Teriakan “api” terdengar berkali-kali dari arah jalan, membuat Warinah yang tinggal di rumah kontrakan kawasan Jalan Kramat, Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan, langsung bergegas keluar. Namun, begitu berada di luar, ia melihat kobaran api sudah membesar tepat di atas tempat tinggalnya hingga tak sempat menyelamatkan barang-barang.
"Ada yang teriak-teriak dari seberang jalan raya itu. Pas saya keluar benar api sudah besar, di atas kontrakan," cerita Warinah kepada awak media di tenda pengungsian, Rabu, 23 September 2026.
Walhasil, perempuan paruh baya itu tidak sempat menyelamatkan apa-apa, termasuk pakaian dan juga dokumen berharga. Bagi Warinah, saat itu hanya ada satu hal yang jauh lebih penting daripada seluruh isi rumah, yakni memastikan dirinya dan keluarganya selamat dari kepungan api.
Baca Juga: Polisi Selidiki Penyebab Kebakaran Kontainer Berisi Minyak Mentah di Tanjung Priok
"Pokoknya yang penting selamat dulu, itu api udah besar. Enggak kepikiran itu baju, baju KK (dokumen keluarga)," ucap Warinah.
Kisah pilu juga disampaikan oleh Andan, 36 tahun, dan istrinya, Hani, 28 tahun, serta dua anak mereka di tenda pengungsian. Bagi keluarga ini, api bukan hanya menghilangkan tempat untuk pulang, tetapi juga menghapus hampir seluruh benda yang menopang kehidupan mereka sehari-hari.
Andan yang sehari-hari berjualan aksesori handphone itu tampak tidak percaya dengan apa yang menimpa dirinya dan warga lainnya. Bahkan, seluruh barang dagangannya, yang ada di dalam rumah seperti, charger, kabel data, chasing HP dan headset habis tak tersisa dilalap si jago merah.
"Habis bang, semuanya enggak ada yang sisa uang simpanan juga, tadi pagi sudah saya sisir. Dokumen keluarga juga enggak sempat diselamatin," keluh Andan.

Menurut pengakuan Andan, pada saat kebakaran terjadi, dirinya sedang berada di sekitar tempatnya berjualan dan menunggu dagangan. Sekitar pukul 20.30 WIB, anaknya memberi tahu bahwa ada kobaran api, tanpa pikir panjang langsung bergegas menuju rumah untuk memastikan keselamatan keluarganya.
“Pastinya saya mau menyelamatkan barang-barang, tapi yang penting keluarga dulu, anak dan istri saya selamatkan,” tutur Andan.
Setelah memastikan istri dan kedua anaknya selamat, Andan sempat berusaha membantu memadamkan api menggunakan peralatan seadanya. Namun, kobaran api bergerak cepat dan menjalar ke bangunan lain, membuat upaya warga untuk menyelamatkan barang semakin sulit dilakukan.
Sebenarnya, kata Andan, pada saat kejadian sempat turun hujan dan lumayan deras, tapi tetap tidak menghentikan kobaran api. Bahkan, angin yang bertiup setelah hujan justru membuat api semakin cepat menyebar, disertai suara ledakan dari sejumlah benda di sekitar lokasi.
“Hujan turun di sini tapi api besar banget. Setelah hujan, angin tambah besar, baru api menjalar ke seluruhnya,” terang Andan.
Selain kehilangan harta benda, Andan juga menghadapi persoalan yang lebih panjang. Dia harus memikirkan tempat tinggal, pendidikan anak, kebutuhan sehari-hari hingga bagaimana kembali mendapatkan penghasilan setelah seluruh barang dagangan habis terbakar.
Untuk sementara, Andan dan keluarga tersebut mengandalkan makanan dan kebutuhan pokok yang diberikan di lokasi pengungsian. Ia juga berharap bantuan yang diterima tidak hanya berupa makanan dan pakaian untuk orang dewasa. Ia ingin kedua anaknya segera memiliki kembali seragam, sepatu, buku dan perlengkapan belajar agar dapat kembali bersekolah.
“Kalau saya sama istri kan masih bisa, tapi kan anak bagaimana sekolahnya, kasihan. Sementara uang apa sudah enggak ada," ucap Andan.
Kemudian terkait dengan pilihan untuk menempati rumah susun yang mungkin ditawarkan pemerintah pun masih harus dipertimbangkan dengan matang. Andan perlu memastikan lokasi tempat tinggal baru tidak menyulitkan kedua anaknya untuk bersekolah sekaligus masih memungkinkan dirinya mencari penghasilan.
“Kalau untuk tempat kerja masih dipikirkan kalau misalnya rusun. Apalagi kalau jauh dari sekolah anak-anak, kasihan. Kita juga harus mencari tempat usaha lagi, mulai dari nol lagi,” terang Andan.
Sebanyak 24 unit mobil pemadam kebakaran dengan 128 personel dikerahkan untuk menangani kebakaran yang melanda kawasan seluas sekitar 1.205 meter persegi tersebut. Kobaran api menghanguskan 22 bangunan yang terdiri dari 18 rumah tinggal dan empat tempat usaha.
Sementara itu, Suku Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Jakarta Selatan kembali melakukan pendataan warga yang terdampak kebakaran hebat di kawasan permukiman dekat Stasiun Kebayoran, tersebut. Tercatat hingga saat ini sebanyak 180 warga yang terimbas amukan si jago merah.
Petugas melakukan pendataan terhadap warga terdampak di tenda pengungsian yang berada di Jalan Mesjid Al-Huda, Kebayoran Lama. Pendataan tersebut dilakukan untuk membantu menerbitkan kembali dokumen kependudukan yang hilang atau rusak akibat kebakaran.
"Kami hadir untuk memastikan warga yang terdampak kehilangan atau mengalami kerusakan dokumen dapat menerbitkan kembali dokumennya," ujar Kepala Sektor Dukcapil Kebayoran Lama, Aldo Prima Putra.
Aldo menjelaskan, dokumen yang dapat diterbitkan kembali di antaranya Kartu Keluarga (KK), Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan Kartu Identitas Anak (KIA). Petugas mencatat identitas warga, termasuk nama dan nomor induk kependudukan (NIK). Hanya saja, tidak semua warga yang terdampak tinggal di tenda pengungsian yang bejarak sekitar 100 meter dari lokasi kebakaran.
"Dari 180 warga yang terdampak, sebanyak 89 orang saat ini menempati tenda pengungsian, sisanya mengungsi secara mandiri di rumah keluarga atau kerabat," jelas Aldo.
