Sejarah Gunung Krakatau dan Anak Krakatau, dari Letusan Dahsyat hingga Tsunami 2018

Senin 07 Sep 2026, 09:14 WIB
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda merupakan gunung api aktif yang tumbuh setelah letusan besar Krakatau pada 1883 (Sumber: Emilogi)
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda merupakan gunung api aktif yang tumbuh setelah letusan besar Krakatau pada 1883 (Sumber: Emilogi)

POSKOTA.CO.ID - Nama Gunung Krakatau tidak bisa dilepaskan dari sejarah letusan gunung api paling dahsyat yang pernah tercatat. Berada di Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra, kompleks vulkanik ini pernah mengubah bentang alam sekaligus meninggalkan jejak bencana yang dikenang hingga sekarang.

Letusan besar pada Agustus 1883 menjadi titik paling penting dalam sejarah Krakatau. Peristiwa tersebut bukan hanya menghancurkan sebagian besar tubuh gunung, tetapi juga memicu tsunami yang menewaskan puluhan ribu orang di kawasan pesisir Selat Sunda.

Badan Geologi mencatat korban tewas akibat rangkaian bencana Krakatau 1883 mencapai lebih dari 36.000 orang.

Baca Juga: Apakah Gunung Anak Krakatau Masih Erupsi Lagi Hari Ini 7 September 2026? Ini Penjelasan PVMBG

Letusan Krakatau 1883 Mengubah Wajah Selat Sunda

Melansir dari Youtube @BPBD DKI Jakarta, puncak letusan terjadi pada 26-27 Agustus 1883. Erupsi besar tersebut menghancurkan sebagian besar pulau tempat Krakatau berada dan membentuk kaldera bawah laut yang kemudian menjadi bagian penting dari lanskap vulkanik Selat Sunda.

Dampaknya tidak berhenti pada letusan. Material vulkanik dan runtuhan tubuh gunung yang masuk ke laut menghasilkan tsunami besar. Gelombang tersebut menerjang berbagai kawasan pesisir Banten dan Lampung, bahkan dampaknya tercatat hingga wilayah yang jauh dari pusat letusan.

Dahsyatnya peristiwa ini membuat Krakatau menjadi salah satu contoh penting dalam kajian gunung api dan tsunami. Suara ledakannya juga dilaporkan terdengar hingga ribuan kilometer.

Anak Krakatau Muncul dari Dasar Laut

Setelah letusan 1883, aktivitas vulkanik tidak benar-benar berhenti. Dari kawasan kaldera, aktivitas erupsi kembali teramati pada 1927 ketika tubuh gunung api masih berada di bawah permukaan laut.

Gunung api baru tersebut kemudian dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau. Tubuhnya mulai muncul ke permukaan laut pada 1929 dan terus mengalami pertumbuhan melalui akumulasi material hasil erupsi.

Proses tersebut menjelaskan mengapa Anak Krakatau tidak bisa dipandang sebagai gunung yang berdiri sendiri tanpa kaitan dengan Krakatau. Gunung ini merupakan bagian dari proses pembentukan baru setelah kehancuran kompleks vulkanik pada 1883.

Tsunami Anak Krakatau 2018 Jadi Pengingat Baru

Sejarah kembali mencatat peristiwa besar pada 22 Desember 2018. Saat itu, Anak Krakatau sedang mengalami aktivitas erupsi. Sebagian tubuh gunung kemudian mengalami longsoran atau flank collapse ke laut.

Longsoran tersebut memicu tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung. Berbeda dengan tsunami yang umumnya dikaitkan dengan gempa tektonik, kejadian ini menunjukkan bahwa aktivitas gunung api juga dapat menjadi sumber tsunami.

Badan Geologi mencatat peristiwa 2018 sebagai salah satu contoh penting hubungan antara erupsi, runtuhan tubuh gunung api, dan tsunami di Selat Sunda.

Baca Juga: Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau, Pemprov Jakarta Berlakukan KBM Jarak Jauh Mulai 7 September

Tiga Peristiwa Penting dalam Sejarah Krakatau

1883 – Letusan besar Krakatau

Erupsi menghancurkan sebagian besar tubuh Krakatau dan memicu tsunami dengan korban jiwa lebih dari 36.000 orang.

1927-1929 – Kemunculan Anak Krakatau

Aktivitas erupsi dimulai dari bawah laut pada 1927, kemudian tubuh gunung api baru muncul ke permukaan pada 1929.

22 Desember 2018 – Tsunami Selat Sunda

Longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau ke laut memicu tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung.

Sejarah Krakatau bukan hanya sekadar cerita tentang sebuah gunung yang pernah meletus besar. Dari letusan 1883, kelahiran Anak Krakatau, hingga tsunami 2018 memperlihatkan bahwa perubahan tubuh gunung api dapat berlangsung dalam rentang waktu panjang dan membawa konsekuensi besar.

Karena itu, memahami sejarah Krakatau penting bukan hanya untuk mengenang bencana masa lalu, tetapi juga sebagai bagian dari pengetahuan mitigasi bencana bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Selat Sunda.


Berita Terkait


News Update