Longsoran tersebut memicu tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung. Berbeda dengan tsunami yang umumnya dikaitkan dengan gempa tektonik, kejadian ini menunjukkan bahwa aktivitas gunung api juga dapat menjadi sumber tsunami.
Badan Geologi mencatat peristiwa 2018 sebagai salah satu contoh penting hubungan antara erupsi, runtuhan tubuh gunung api, dan tsunami di Selat Sunda.
Baca Juga: Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau, Pemprov Jakarta Berlakukan KBM Jarak Jauh Mulai 7 September
Tiga Peristiwa Penting dalam Sejarah Krakatau
1883 – Letusan besar Krakatau
Erupsi menghancurkan sebagian besar tubuh Krakatau dan memicu tsunami dengan korban jiwa lebih dari 36.000 orang.
1927-1929 – Kemunculan Anak Krakatau
Aktivitas erupsi dimulai dari bawah laut pada 1927, kemudian tubuh gunung api baru muncul ke permukaan pada 1929.
22 Desember 2018 – Tsunami Selat Sunda
Longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau ke laut memicu tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung.
Sejarah Krakatau bukan hanya sekadar cerita tentang sebuah gunung yang pernah meletus besar. Dari letusan 1883, kelahiran Anak Krakatau, hingga tsunami 2018 memperlihatkan bahwa perubahan tubuh gunung api dapat berlangsung dalam rentang waktu panjang dan membawa konsekuensi besar.
Karena itu, memahami sejarah Krakatau penting bukan hanya untuk mengenang bencana masa lalu, tetapi juga sebagai bagian dari pengetahuan mitigasi bencana bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Selat Sunda.
