Sejarah Gunung Krakatau dan Anak Krakatau, dari Letusan Dahsyat hingga Tsunami 2018

Senin 07 Sep 2026, 09:14 WIB
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda merupakan gunung api aktif yang tumbuh setelah letusan besar Krakatau pada 1883 (Sumber: Emilogi)
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda merupakan gunung api aktif yang tumbuh setelah letusan besar Krakatau pada 1883 (Sumber: Emilogi)

Longsoran tersebut memicu tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung. Berbeda dengan tsunami yang umumnya dikaitkan dengan gempa tektonik, kejadian ini menunjukkan bahwa aktivitas gunung api juga dapat menjadi sumber tsunami.

Badan Geologi mencatat peristiwa 2018 sebagai salah satu contoh penting hubungan antara erupsi, runtuhan tubuh gunung api, dan tsunami di Selat Sunda.

Baca Juga: Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau, Pemprov Jakarta Berlakukan KBM Jarak Jauh Mulai 7 September

Tiga Peristiwa Penting dalam Sejarah Krakatau

1883 – Letusan besar Krakatau

Erupsi menghancurkan sebagian besar tubuh Krakatau dan memicu tsunami dengan korban jiwa lebih dari 36.000 orang.

1927-1929 – Kemunculan Anak Krakatau

Aktivitas erupsi dimulai dari bawah laut pada 1927, kemudian tubuh gunung api baru muncul ke permukaan pada 1929.

22 Desember 2018 – Tsunami Selat Sunda

Longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau ke laut memicu tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung.

Sejarah Krakatau bukan hanya sekadar cerita tentang sebuah gunung yang pernah meletus besar. Dari letusan 1883, kelahiran Anak Krakatau, hingga tsunami 2018 memperlihatkan bahwa perubahan tubuh gunung api dapat berlangsung dalam rentang waktu panjang dan membawa konsekuensi besar.

Karena itu, memahami sejarah Krakatau penting bukan hanya untuk mengenang bencana masa lalu, tetapi juga sebagai bagian dari pengetahuan mitigasi bencana bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Selat Sunda.


Berita Terkait


News Update