POSKOTA.CO.ID - Nama Gunung Krakatau tidak bisa dilepaskan dari sejarah letusan gunung api paling dahsyat yang pernah tercatat. Berada di Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra, kompleks vulkanik ini pernah mengubah bentang alam sekaligus meninggalkan jejak bencana yang dikenang hingga sekarang.
Letusan besar pada Agustus 1883 menjadi titik paling penting dalam sejarah Krakatau. Peristiwa tersebut bukan hanya menghancurkan sebagian besar tubuh gunung, tetapi juga memicu tsunami yang menewaskan puluhan ribu orang di kawasan pesisir Selat Sunda.
Badan Geologi mencatat korban tewas akibat rangkaian bencana Krakatau 1883 mencapai lebih dari 36.000 orang.
Baca Juga: Apakah Gunung Anak Krakatau Masih Erupsi Lagi Hari Ini 7 September 2026? Ini Penjelasan PVMBG
Letusan Krakatau 1883 Mengubah Wajah Selat Sunda
Melansir dari Youtube @BPBD DKI Jakarta, puncak letusan terjadi pada 26-27 Agustus 1883. Erupsi besar tersebut menghancurkan sebagian besar pulau tempat Krakatau berada dan membentuk kaldera bawah laut yang kemudian menjadi bagian penting dari lanskap vulkanik Selat Sunda.
Dampaknya tidak berhenti pada letusan. Material vulkanik dan runtuhan tubuh gunung yang masuk ke laut menghasilkan tsunami besar. Gelombang tersebut menerjang berbagai kawasan pesisir Banten dan Lampung, bahkan dampaknya tercatat hingga wilayah yang jauh dari pusat letusan.
Dahsyatnya peristiwa ini membuat Krakatau menjadi salah satu contoh penting dalam kajian gunung api dan tsunami. Suara ledakannya juga dilaporkan terdengar hingga ribuan kilometer.
Anak Krakatau Muncul dari Dasar Laut
Setelah letusan 1883, aktivitas vulkanik tidak benar-benar berhenti. Dari kawasan kaldera, aktivitas erupsi kembali teramati pada 1927 ketika tubuh gunung api masih berada di bawah permukaan laut.
Gunung api baru tersebut kemudian dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau. Tubuhnya mulai muncul ke permukaan laut pada 1929 dan terus mengalami pertumbuhan melalui akumulasi material hasil erupsi.
Proses tersebut menjelaskan mengapa Anak Krakatau tidak bisa dipandang sebagai gunung yang berdiri sendiri tanpa kaitan dengan Krakatau. Gunung ini merupakan bagian dari proses pembentukan baru setelah kehancuran kompleks vulkanik pada 1883.
Tsunami Anak Krakatau 2018 Jadi Pengingat Baru
Sejarah kembali mencatat peristiwa besar pada 22 Desember 2018. Saat itu, Anak Krakatau sedang mengalami aktivitas erupsi. Sebagian tubuh gunung kemudian mengalami longsoran atau flank collapse ke laut.
