Untuk mengetahui apakah aktivitas gunung api mulai menuju fase akhir, kata Daryono, para ahli tidak hanya melihat kondisi di permukaan. Sejumlah parameter pemantauan digunakan, antara lain aktivitas gempa vulkanik dalam, emisi gas sulfur dioksida (SO2), serta perubahan bentuk atau deformasi tubuh gunung api.
"Yang dapat dilakukan vulkanolog bukan memprediksi tanggal pasti, melainkan menganalisis tren dan sinyal fisik untuk melihat apakah sistem gunung api sedang menuju fase penghentian pasokan magma," tuturnya.
Penurunan aktivitas gempa dalam, berkurangnya emisi SO2 secara signifikan, serta deflasi atau penyusutan tubuh gunung api secara konsisten dapat menjadi indikator bahwa suplai magma segar mulai berkurang. Namun, kondisi tersebut tetap perlu dikonfirmasi melalui pemantauan secara berkelanjutan.
Daryono menilai waktu berhentinya pasokan magma segar sulit dipastikan secara tepat. Sistem magmatik gunung api bersifat kompleks dan berada jauh di bawah permukaan sehingga belum ada teknologi yang dapat mengukur secara langsung sisa volume magma maupun memastikan kapan proses kristalisasi di saluran magma selesai.
Karena itu, masyarakat dan pihak yang terdampak, termasuk sektor penerbangan, perlu mengikuti perkembangan berdasarkan hasil pemantauan lembaga berwenang. Status operasional penerbangan dapat berubah mengikuti kondisi sebaran abu dan hasil evaluasi keselamatan.
Sebelumnya, Kementerian Perhubungan memperpanjang penutupan sementara tujuh bandara yang terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau hingga pukul 18.00 WIB pada Senin, 7 September 2026. Ketujuh bandara tersebut yakni Bandara Soekarno-Hatta, Radin Inten II, Budiarto, Halim Perdanakusuma, Pondok Cabe, Muhammad Taufiq Kiemas, dan Husein Sastranegara.
Kemenhub menyiapkan sejumlah bandara alternatif untuk menjaga konektivitas penerbangan sekaligus mengurangi potensi penumpukan penumpang. Bandara alternatif tersebut meliputi Juanda, Adi Soemarmo, Jenderal Ahmad Yani, Bandara Internasional Yogyakarta, Adisutjipto, dan Kertajati.
