JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Pasar Tradisional Pondok Labu di Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan, sepi pengunjung. Sepinya pembeli membuat pendapatan para pedagang merosot tajam hingga 70 sampai 80 persen, bahkan tidak sedikit pelaku usaha gulung tikar dan menjual kios miliknya.
Tekanan ekonomi ini dirasakan langsung oleh Aung. 64 tahun, pedagang kaus kaki dan aksesori yang telah puluhan tahun menggantungkan hidup di pasar tersebut. Ia mengaku dampak sepi pembeli saat ini jauh lebih parah daripada masa awal pandemi Covid-19.
"Masih mending saat Covid awal-awalnya pembeli masih ada. Setelah Covid berjalan beberapa tahun sampai saat ini bertambah parah sepinya kebangetan," kata Aung kepada Poskota di Pasar Pondok Labu, Jakarta Selatan, Kamis, 3 Agustus 2026.
Kondisi tersebut memaksa Aung menjual kios ukuran 2x2 meter miliknya di lantai basement seharga Rp30 juta karena tak sanggup lagi membayar Biaya Pengelolaan Pasar (BPP). Kios itu dibeli Aung dengan skema cicilan Rp500 ribu selama lima tahun.
Baca Juga: Kalah Saing dengan Pasar Online, Separuh Pedagang Pasar Gudang Tigaraksa Gulung Tikar
Kini, ayah tiga anak itu memilih berjualan sebagai pedagang kaki lima di area depan bangunan pasar agar tetap bisa bertahan hidup.
"Pernah jualan online dibantu anak yakni sepatu impor Cina. Namun sepi juga lalu berahli ke parfum juga tidak berjalan. Jadi saya lebih milih dagang kaki lima semuanya lebih terjangkau," ujarnya.
Ia berharap, pengelola Pasar Pondok Labu membuat terobosan supaya tempat perbelanjaan itu bisa kembali ramai di tengah persaingan dengan toko daring.
Pedagang Desak Pengelola Buat Inovasi
Keluhan serupa disampaikan Yanti, pemilik toko pakaian Toko Mega. Sepinya lorong pasar membuat pendapatannya merosot hingga 70 persen, sehingga ia kesulitan menutup BPP sebesar Rp520 ribu per bulan.
Baca Juga: Program Pembiayaan Bank Jakarta Bikin Pedagang Pasar Induk Kramat Jati Untung Berlipat
"Bagi usaha pakaian jika sepi pengunjung sudah jelas tidak akan mampu bayar BPP. Lain jika usaha sembako pasti masih ketutup sehingga jika tidak ada upaya maka akan terancam bangkut," tuturnya.
Situasi ini memicu gelombang penutupan puluhan kios di lantai basement, lantai 1, dan lantai 2 akibat pedagang tak kuat menanggung biaya operasional.
Para pedagang mendesak pihak pengelola, Perumda Pasar Jaya, untuk segera mengambil langkah konkret dan membuat program inovatif guna meramaikan kembali Pasar Pondok Labu sebelum seluruh pedagang bertumbangan.
"Jangan sampai menunggu para pedagang yang ada di dalam Pasar Pondok Labu Gulung Tikar. Sudah harus ada gerakan membuat Pasar Pondok Labu untuk ramai kembali," kata dia.
Sementara itu, pengunjung bernama Saiful, 30 tahun, prihatin dengan kondisi pasar yang sepi. Menurutnya, Pasar Pondok Labu tempat perbelanjaan legendaris, sehingga perlu ada upaya mengembalikan kejayaannya.
"Sayang ya jika sepi begini. Pasar Pondok Labu merupakan pasar terlama juga ya sebelum ada pasar modern. Jika tidak ada upaya dari pihak pengelola Pasar sangat disayangkan dan kasihan juga para pedagang," ujar dia.
Baca Juga: Bawa Ribuan Butir Hexymer dan Tramadol, Pria 22 Tahun Diamankan di Pasar Induk Tangerang
Kepala Suku Dinas PPKUKM Jakarta Selatan, Djaharuddin menegaskan, tata kelola dan strategi meramaikan pasar sepenuhnya berada di bawah kewenangan Perumda Pasar Jaya.
"Pasar Pondok Labu dibawa binaan Pasar Jaya sudah seharusnya punya inisiatif cara bagaimana membuat ramai. Aspirasi dari para pedagang untuk meramaikan pasar bisa untuk membuat program," tutur dia.
Meski demikian, pihaknya siap memberikan pendampingan usaha dan pelatihan digitalisasi jika para pedagang mendaftarkan diri sebagai anggota binaan Jakpreneur.
"Kami memiliki sebanyak 69.000 UMKM untuk wilayah Jakarta Selatan. Konsen kita di bidang Kuliner, Fashion, Kerajinan, Cinderamata. Untuk pendampingan akan kami berikan jika pedagang merupakan UMKM dan tergabung dalam UMKM Jakprenee sehingga ada binaan. Bukan pedagang binaan itu Pasar Jaya," pungkasnya.
