Desil dievaluasi kembali menyusul polemik di Data Tunggal Ekonomi Nasional (DTSEN) yang banyak dikeluhkan publik.
Keluarga dengan desil 1, tiba – tiba naik peringkat menjadi desil 9 seperti penarik becak di Yogyakarta. Dampaknya, anaknya yang baru diterima masuk kuliah negeri kesulitan mengakses keringanan biaya kuliah dan Kartu Indonesia Pintar, karena kesalahan desil tadi.
“Itu salah satu contoh kasus yang ramai diberitakan. Keluhan tidak sesuainya data desil dengan kondisi lapangan terjadi juga di daerah lain yang menutup peluang bagi warga yang bersangkutan mendapatkan subsidi,” ujar mas Bro.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Saling Kirim Pesan Politik
“Pemerintah sendiri belum merilis jumlah total kesalahan data desil. Yang jelas BPS sendiri sedang gencar mengaku ulang penentuan desil,” tambah Heri.
“Semoga kesalahan data desil hanyalah kecelakaan, bukan upaya mengatrol tingkat kesejahteraan masyarakat,” kata Yudi.
“Kita berharap kajian ulang yang melibatkan sejumlah lembaga terkait menghasilkan skema terbaik dalam menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat,” kata Heri.
“Skema terbaik adalah sesuai realita yang ada, bukan mengada – ada, terlebih diada – adakan,” ujar Yudi.
