RIAU, POSKOTA.CO.ID - Perhimpunan Insinyur Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) secara resmi menyerahkan bantuan 100 ribu batang bibit cabai kepada Pemerintah Provinsi Riau, jajaran TNI, Polda Riau, Lanud Roesmin Nurjadin (RSN), serta elemen masyarakat lainnya, Minggu, 23 Agustus 2026.
Langkah konkret melalui "Gerakan Tanam Cabai 100 Ribu Batang" ini ditujukan untuk memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus mendorong peningkatan ekonomi petani berbasis potensi lokal di Provinsi Riau.
Ketua Umum PISPI, Achmad Tjachja Nugraha, menegaskan bahwa penyerahan bibit ini bukan sekadar aksi seremonial menanam tanaman holtikultura, melainkan bagian dari strategi pembangunan ekonomi daerah yang terukur.
"Gerakan Tanam Cabe 100 Ribu Batang harus kita lihat sebagai gerakan ekonomi sekaligus gerakan ketahanan pangan. Target 100 ribu batang ini harus menjadi awal dari sistem produksi cabai yang terencana, terukur, dan berkelanjutan di Riau," ujar Achmad di Riau, Minggu.
Baca Juga: Lapangan Pekerjaan Sulit, Ribuan Sarjana di Kabupaten Tangerang Masih Nganggur
Guru Besar Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut menjelaskan, cabai merupakan salah satu komoditas strategis yang kerap memicu inflasi dan memiliki nilai ekonomi tinggi bagi masyarakat.
Oleh karena itu, pengelolaan komoditas ini membutuhkan pendekatan komprehensif, mulai dari penyediaan benih unggul, penerapaan teknologi budidaya, hingga rantai pemasaran.
Ia juga mengajak agar gerakan berbasis daerah ini dapat direplikasi secara masif di tingkat nasional.
"Yang paling penting adalah memastikan gerakan kecil berbasis daerah menjadi gerakan nasional. Mari kita manfaatkan sekecil apa pun pekarangan rumah untuk menanam tanaman yang dibutuhkan sehari-hari, seperti cabai, daun bawang, dan selada," tambahnya.
Baca Juga: Atasi Isu Kelaparan Dunia, Bulog Hadiri Forum Ketahanan Pangan Global pada Side Event G20
Menurut Achmad, keberlanjutan program pertanian masa depan sangat bergantung pada integrasi ilmu pengetahuan, teknologi, serta keterlibatan generasi muda, akademisi, dan dunia usaha.
