Menurut Achmad, pemerintah harus hadir lebih lincah membuka dan memperluas akses pasar.
Penguatan pasar domestik, perdagangan antarwilayah hingga peluang ekspor harus berjalan beriringan dengan program peningkatan produksi.
Baca Juga: KASAI Dorong Restorasi Pertanian, Tak Lagi Sekadar Kejar Produksi
Perencanaan produksi pun, katanya, harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Petani perlu mengetahui calon pembeli, kebutuhan volume, standar kualitas serta mekanisme harga sebelum menentukan jumlah produksi.
"Kalau informasi pasar jelas, petani bisa menentukan apa yang harus ditanam dan berapa banyak yang harus diproduksi. Jadi keputusan produksi tidak sekadar berdasarkan perkiraan," katanya.
Ia juga mendorong pemerintah memperkuat kemitraan antara petani dengan koperasi, pelaku usaha, industri pengolahan hingga offtaker.
Kemitraan tersebut harus dibangun secara sehat dan transparan. Jangan sampai petani hanya menjadi pihak yang memproduksi, sementara keuntungan terbesar justru dinikmati mata rantai perdagangan setelahnya.
Selain membuka pasar baru, pemerintah juga dinilai perlu memperkuat sektor hilir. Hasil pertanian tidak selamanya harus dijual sebagai bahan mentah.
Industri pengolahan dapat menciptakan permintaan baru sekaligus meningkatkan nilai tambah produk petani.
"Semakin banyak pilihan pasar, semakin besar peluang petani mendapatkan harga yang layak," ujarnya.
Achmad juga menyoroti pentingnya sistem informasi pasar. Petani jangan sampai baru mengetahui harga ketika hasil panennya sudah siap dijual.
Informasi mengenai harga, kebutuhan industri, volume permintaan, pasokan dan peluang pasar antardaerah harus bisa diketahui petani sejak sebelum masa tanam.
