TANGERANG, POSKOTA.CO.ID - Anak punk dan komunitas jalanan kerap diasosiasikan dengan stigma negatif oleh masyarakat. Namun, suasana berbeda terlihat di Pondok Tasawuf Underground, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Di tempat itu, sejumlah anggota komunitas punk dan jalanan dipersiapkan menjadi “School of Waste Influencers”, sebuah program yang ingin mengubah stigma terhadap kelompok menjadi kekuatan untuk mendorong perubahan sosial. Mereka mengikuti pelatihan public speaking, belajar tentang lingkungan, hingga memahami cara membuat konten untuk mengampanyekan kepedulian terhadap sampah.
Ketua Tim Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM), Ade Irfan Abdurahman mengatakan pelatihan tersebut bukan sekadar mengajarkan peserta berbicara di depan orang banyak. Mereka juga diajak melihat identitas komunitas yang selama ini kerap dianggap sebagai masalah justru dapat digunakan untuk menyampaikan kritik dan pesan sosial kepada masyarakat.
“Melalui program ini, kami membekali rekan-rekan Punk dan Jalanan anggota Komunitas Tasawuf Underground agar memiliki kepercayaan diri saat melakukan orasi di ruang publik atau membuat konten kreatif di media sosial melalui aplikasi Punk-Paign yang akan kami kembangkan,” kata Ade saat dikonfirmasi, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Baca Juga: Kemarau Panjang, Pemkot Tangsel Salurkan 339.200 Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan
Menurut Ade, para anggota komunitas tidak hanya diajarkan cara menyampaikan pesan tentang lingkungan, tetapi juga diarahkan menjadi pembuat konten yang mampu membawa kampanye tersebut ke ruang digital. Langkah ini dinilai relevan karena persoalan sampah masih menjadi salah sebuah tantangan.
Ade berharap pesan mengenai persoalan sampah nantinya tidak lagi disampaikan dalam bentuk imbauan yang kaku. Kritik sosial, kreativitas, dan gaya komunikasi khas komunitas punk justru dapat menjadi modal untuk membuat isu lingkungan lebih dekat dengan masyarakat, terutama generasi muda.
“Melalui kreativitas dan karakter khas komunitas punk, isu sampah dapat disampaikan dengan cara yang lebih dekat, berani, dan mudah diterima generasi muda,” ujar dosen Universitas Islam Syekh-Yusuf (UNIS) tersebut.
Dengan adanya workshop tersebut, cara pandang terhadap komunitas punk diharapkan ikut bergeser dari kelompok yang selama ini lebih banyak ditempatkan sebagai objek pembinaan untuk kemudian memiliki kemampuan, kreativitas, dan suara untuk turut menyelesaikan persoalan sosial di lingkungannya.
Baca Juga: Tangsel Genjot Intervensi Stunting Sejak Dini Lewat Program SIGAP Anak Sehat
Dari jalanan, mereka kini diarahkan menuju ruang digital dengan memanfaatkan mikrofon, kamera ponsel, serta karya kreatif sebagai sarana menyampaikan pesan lingkungan. Perubahan tersebut sekaligus membuka kesempatan bagi komunitas punk untuk menjadi subjek yang berbicara dan mengajak masyarakat ikut menjaga lingkungan.
