“Bukan ingat lagi, saya pun dapat kiriman video tersebut dari teman, yang sudah dibumbui beragam narasi. Di antaranya sindiran, rakya lagi kesusahan, di sana joget-joget. Kira-kira begitu maksudnya,” urai Yudi.
“Ya, dapat dipahami komentar lazinya didasari dari apa yang terlihat, sementara yang beredar yang lagi joget-joget. Kita paham juga bahwa gambar, potongan gambar akan memiliki seribu makna,” jelas mas Bro.
“Semoga dengan tidak akan diputarnya lagu yang dapat mengundang berjoget alias 'musik berjoget’, peristiwa seperti tahun lalu tidak akan terjadi lagi,” kata Heri.
“Itu upaya pencegahan. Sejatinya tanpa pembatasan musik berjoget pun, kami meyakini anggota legislatif tidak akan berjoget lagi pada sidang tahunan besok, meski acara resmi telah berlalu. Pengalaman guru terbaik,” ujar Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Jangan Cuma jadi Penonton Program
“Joget itu ekspresi hati senang dan bahagia. Joget juga untuk melepaskan penat dan lelah, utamanya pikiran. Denga joget pikiran terasa plong, energi positif pulih kembali, terlebih di saat beban puncak. Itu menurut saya,” urai mas Bro.
“Kalau saya tak hanya berjoget, juga bernyanyi lepas untuk melepaskan penat," ujar Yudi.
“Masing-masing punya cara dan gaya untuk mengendorkan urat syaraf. Yang terpenting tepat waktu dan sasaran,” kata Heri.
