POSKOTA.CO.ID - PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) dikabarkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan karyawan pada Agustus 2026.
Langkah tersebut dilakukan di tengah kondisi keuangan perusahaan yang belum sepenuhnya membaik, serta status penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) yang sedang dihadapi.
Sebanyak 1.900 karyawan PT GNI terdampak PHK dalam proses yang dilakukan secara bertahap.
Kebijakan itu menambah jumlah pekerja yang terdampak efisiensi perusahaan dalam dua tahun terakhir.
Berdasarkan keterangan Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Morowali Utara, sebanyak 1.900 dari total 6.325 karyawan PT GNI terkena PHK.
Proses tersebut mulai dilaksanakan pada Rabu, 5 Agustus 2026 dan berlangsung secara bertahap hingga Sabtu, 8 Agustus 2026.
PHK terhadap 1.900 karyawan pada Agustus 2026 ini sendiri bukan merupakan efisiensi pertama yang dilakukan PT GNI.
Sebelumnya, perusahaan juga telah melakukan pengurangan jumlah pekerja pada tahun 2025.
Berdasarkan keterangan Disnakertrans Morowali Utara, PT GNI telah melakukan efisiensi terhadap sekitar 1.800 karyawan sepanjang 2025.
Dengan adanya PHK terhadap 1.900 karyawan pada Agustus 2026, jumlah pekerja yang terdampak efisiensi perusahaan dalam kurun waktu dua tahun terakhir mencapai sekitar 3.700 orang.
Lantas, siapa sebenarnya pemilik PT Gunbuster Nickel Industry dan bergerak di bidang apa perusahan tersebut? Berikut profil lengkapnya.
Baca Juga: Klarifikasi Newport soal Challenge Baca Alquran Berhadiah Miras: Kami Minta Maaf
Pemilik PT GNI Siapa dan Bergerak di Bidang Apa?
Pemilik dan pendiri PT Gunbuster Nickel Industry (PT GNI) adalah pengusaha asal Tiongkok, Tony Zhou Yuan, yang juga menjabat sebagai petinggi atau CEO perusahaan.
Secara korporasi, perusahaan smelter nikel yang beroperasi di Morowali Utara tersebut berada di bawah kendali grup perusahaan asal Tiongkok, Jiangsu Delong Nickel Industry Co. Ltd.
Keterlibatan grup usaha asal Tiongkok tersebut tidak terlepas dari perkembangan industri pengolahan nikel di Indonesia.
Morowali Utara menjadi salah satu kawasan yang berkembang sebagai pusat industri pengolahan mineral, khususnya nikel.
PT GNI sendiri berdiri sejak 2019 dan mengembangkan fasilitas pengolahan nikel dengan teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF).
Teknologi tersebut digunakan dalam proses pengolahan bijih nikel menjadi produk turunan yang memiliki nilai tambah.
Dalam pengembangan fasilitas produksinya, PT GNI disebut memiliki 25 jalur produksi dengan teknologi RKEF.
Teknologi RKEF merupakan salah satu teknologi yang banyak digunakan dalam industri pengolahan nikel, terutama untuk menghasilkan produk seperti Nickel Pig Iron (NPI) atau feronikel.
Baca Juga: Dita Aprillia Siapa? Ini Sosok Camat Rancabungur yang viral Gegara Tegur Tukang Cukur soal Bendera
Sebagai perusahaan pengolahan nikel, salah satu produk utama yang dihasilkan PT GNI adalah Nickel Pig Iron (NPI).
Industri smelter nikel tersebut disebut memiliki kapasitas produksi mencapai sekitar 1,9 juta ton NPI per tahun.
NPI merupakan salah satu produk antara dalam rantai industri nikel yang dapat digunakan sebagai bahan baku dalam industri baja tahan karat atau stainless steel.
Fasilitas smelter PT GNI menjadi salah satu proyek industri pengolahan nikel yang mendapat perhatian pemerintah.
Di mana, pabrik pengolahan smelter PT GNI di Morowali Utara itu diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 27 Desember 2021.
Tidak lama setelah fasilitas smelter beroperasi, PT GNI juga melakukan ekspor perdana produk hasil olahan nikel.
Ekspor perdana tersebut dilakukan pada 20 Januari 2022 melalui Pelabuhan Jety milik PT GNI yang berada di Morowali Utara.
Produk yang dikirim dalam ekspor perdana tersebut berupa produk turunan nikel dalam bentuk Nickel Pig Iron (NPI) atau feronikel.
Tony Zhou Yuan menjelaskan, 13.650 ton feronikel tersebut merupakan hasil olahan dari tiga tungku smelter yang telah beroperasi.
Adapun nilai total atau nominal ekspornya mencapai sekitar 23 juta dolar AS.
