PALEMBANG, POSKOTA.CO.ID - Industri Rumah Tangga (IRT) Jajanan Bie, pelaku usaha jajanan bie di kawasan Talang Jambe, Sukarami, Kota Palembang, memiliki peluang baru untuk memperluas pasar produk mereka. Lewat program pemberdayaan yang menyasar optimalisasi rantai pasok frozen food, Jajanan Bie dibekali pengetahuan dan peralatan untuk mengemas produk secara lebih higienis, tahan lama, dan siap bersaing di pasar yang lebih luas.
Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan tim dosen dan mahasiswa lintas program studi Teknologi Pangan, Agribisnis Pangan, dan Manajemen Informatika Politeknik Negeri Sriwijaya. Kolaborasi antarprodi ini menjadi kekuatan utama program, karena Teknologi Pangan berperan dalam aspek keamanan dan mutu produk olahan, Agribisnis Pangan menyoroti sisi rantai pasok dan nilai ekonomi usaha, sedangkan Manajemen Informatika berkontribusi dalam perancangan desain kemasan serta pemanfaatan teknologi informasi untuk pemasaran.
Kegiatan ini terselenggara berkat pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui Program Bima, skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat. Dukungan pendanaan ini menegaskan komitmen perguruan tinggi dalam menghadirkan hasil riset dan pengabdian yang berdampak langsung bagi peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro rumahan.
Dari Dapur Rumahan ke Pasar yang Lebih Luas

Selama ini, produk bie olahan IRT Talang Jambe dijual dalam kemasan sederhana dengan daya tahan terbatas. Bie yang telah matang biasanya hanya dibungkus plastik biasa dan langsung dijajakan dalam waktu singkat, sehingga jangkauan distribusinya pun terbatas pada pembeli di sekitar rumah dan pasar lokal.
Keterbatasan ini membuat volume produksi sulit ditingkatkan, sebab produk yang tidak terjual dalam waktu singkat berisiko basi dan merugikan usaha. Kondisi inilah yang menjadi titik tolak kegiatan sosialisasi penggunaan alat vacuum sealer.
“Industri Rumah Tangga Jajanan Bie diperkenalkan langsung mengenai teknik pengemasan kedap udara, mulai dari cara mengoperasikan alat, tahapan penataan produk sebelum divakum, hingga cara menyimpan hasil kemasan agar mutunya tetap terjaga. Teknik ini terbukti mampu memperpanjang masa simpan produk sekaligus menjaga kualitas rasa dan tekstur produk tanpa perlu menambahkan bahan pengawet apa pun. Produk bahkan bisa bertahan hingga 6 bulan dalam penyimpanan frozen," kata Ketua Pelaksana Kegiatan, Ira Gusti Riani.
Hal ini berdampak langsung pada potensi jangkauan pasar. Produk yang semula hanya bertahan dan laku di lingkungan sekitar rumah kini berpeluang menempuh perjalanan lebih jauh, dititipkan ke warung dan toko oleh-oleh, dipercayakan kepada reseller di luar kota, bahkan dipasarkan secara daring melalui media sosial dan platform e-commerce. Dengan kata lain, alat vakum tidak sekadar mengubah cara mengemas, tetapi membuka jalan bagi bie Talang Jambe untuk keluar dari batas dapur rumahan menuju rak-rak pasar yang jauh lebih luas.
Tim dosen dan mahasiswa menegaskan bahwa perubahan ini merupakan langkah awal yang strategis. Begitu daya simpan produk teratasi, IRT memiliki ruang lebih besar untuk memikirkan skala produksi, efisiensi bahan baku, dan perluasan jejaring distribusi, tiga hal yang sebelumnya sulit dijangkau selama produk masih terkendala keterbatasan umur simpan.
Sentuhan Desain untuk Tambah Nilai Jual
Selain aspek teknis pengawetan, tim turut memberikan pendampingan desain kemasan produk yang lebih profesional. Label kemasan dirancang ulang agar tampak lebih menarik secara visual dan memuat informasi yang lebih lengkap, mulai dari komposisi bahan, tanggal produksi, masa simpan, hingga kontak pemesanan.
Tim juga menyerahkan plastik vakum dengan desain baru yang lebih menarik kepada para IRT, lengkap dengan informasi produk yang lebih komprehensif dibanding kemasan sebelumnya.
Perubahan ini dinilai penting mengingat kemasan menjadi salah satu faktor penentu keputusan pembelian konsumen, terutama di pasar modern maupun platform digital yang mengutamakan tampilan produk.
Sinergi Lintas Prodi, Kunci Keberhasilan Program

