JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Universitas Nasional (Unas) menyelenggarakan Sidang Terbuka Senat dalam rangka Pengukuhan dan Orasi Ilmiah Guru Besar di Auditorium Unas, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu, 5 Agustus 2026.
Dengan bertambahnya jajaran Guru Besar, Unas semakin memperkokoh posisinya sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dalam mencetak sumber daya manusia berkualitas sekaligus menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang memberikan manfaat bagi masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah.
Ketiga guru besar yang dikukuhkan, di antaranya Prof. Erna Ermawati Chotim (bidang Sosiologi Ekonomi dan Gender), Prof. Agung Triayudi (bidang Machine Learning), serta Prof. Septi Andryana (bidang Decision Support and Analytics). Ketiga akademisi tersebut menyampaikan orasi ilmiah sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik atas kepakaran yang telah dikembangkan, sekaligus menyampaikan gagasan dan kontribusi ilmiah bagi kemajuan ilmu pengetahuan.
Prosesi pengukuhan berlangsung dengan khidmat sejak awal acara. Jajaran Senat Unas dan Majelis Guru Besar memasuki ruang sidang diiringi lagu Gaudeamus Igitur, yang kemudian dilanjutkan lagu kebangsaan Indonesia Raya serta Mars Unas.
Baca Juga: Utang Pinjol Warga RI Naik Rp1,6 Triliun, Simak 5 Tips Lunasi Cicilan Pinjaman Online
Sidang Terbuka Senat dibuka Rektor Unas, r. El Amry Bermawi Putera disusul pembacaan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tentang kenaikan jabatan akademik menjadi Guru Besar.
Amry menyampaikan, pengukuhan Guru Besar merupakan momentum yang membanggakan bagi Unas sekaligus amanah besar bagi para akademisi untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.
"Hari ini merupakan hari yang membanggakan bagi Universitas Nasional. Melalui Sidang Terbuka Senat ini, Universitas Nasional kembali mengukuhkan tiga Guru Besar sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi, integritas, dan kontribusi akademik yang telah diberikan dalam pengembangan ilmu pengetahuan," kata Amry.
Amry menegaskan, pencapaian jabatan Guru Besar bukanlah akhir dari perjalanan akademik, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Seorang Guru Besar dituntut untuk menjadi pemimpin keilmuan, menghasilkan penelitian yang berkualitas dan berdampak, membimbing generasi akademisi berikutnya, serta terus memperkuat pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi demi kemajuan bangsa.
Baca Juga: FBS Unas Gelar Seminar Penguatan Usulan Sutan Takdir Alisjahbana sebagai Pahlawan Nasional 2026
Ia juga mengungkapkan, Unas kini memiliki 35 guru besar dari berbagai disiplin ilmu. Menurutnya, keberagaman kepakaran tersebut menjadi modal strategis untuk memperkuat budaya akademik, meningkatkan kualitas penelitian, memperluas kolaborasi multidisiplin, serta menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi pembangunan nasional.
Apresiasi atas pencapaian tersebut juga disampaikan oleh Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah III melalui sambutan yang dibacakan oleh Kepala Bagian Umum LLDIKTI Wilayah III, Tri Munanto. Ia menyampaikan, pengukuhan tiga Guru Besar sekaligus merupakan indikator meningkatnya kualitas sumber daya manusia dan tata kelola akademik di Universitas Nasional.
“Penambahan tiga Guru Besar sekaligus ini merupakan bukti nyata komitmen Universitas Nasional (UNAS) dalam meningkatkan mutu tata kelola sumber daya manusia yang unggul,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menilai kombinasi kepakaran ketiga Guru Besar memiliki nilai strategis dalam menjawab tantangan pembangunan yang semakin kompleks.
“Kehadiran tiga kepakaran ilmu dari Sosiologi Ekonomi yang menjaga dimensi humanis, Machine Learning yang memacu otomasi, serta Decision Support yang menajamkan ketepatan navigasi institusi merupakan kolaborasi keilmuan yang sangat harmonis. Hal ini sangat sejalan dengan arah kebijakan kementerian saat ini, yaitu mewujudkan Diktisaintek Berdampak,” ucap Tri.
LLDIKTI Wilayah III juga mengingatkan bahwa jabatan Guru Besar membawa tanggung jawab moral yang besar untuk menjaga integritas akademik, membina dosen muda, memperkuat kolaborasi riset lintas disiplin, serta memastikan ilmu pengetahuan memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan pembangunan nasional.
Sidang Terbuka Senat kemudian dilanjutkan dengan penyampaian tiga orasi ilmiah. Erna menyampaikan orasi berjudul “Ketidakseimbangan Struktural Ekonomi: Rekonfigurasi Underground Economy di Era Platform Digital dan Deindustrialisasi Sektor Tekstil-Garment Indonesia”. Melalui orasinya, ia mengajak dunia akademik untuk mengkaji kembali perubahan struktur ekonomi nasional yang dipengaruhi perkembangan ekonomi digital dan dinamika industri.
Sementara itu, Agung membawakan orasi bertajuk “Transformasi Keterbaruan Clustering dalam Machine Learning: dari Educational Data Mining menuju AI Kesehatan yang Tepercaya". Perkembangan teknologi machine learning dianggap tidak hanya mendorong inovasi komputasi, tetapi membuka peluang penerapan kecerdasan artifisial yang aman, akurat, dan tepercaya di sektor kesehatan.
Septi menyampaikan orasi berjudul “Konstruksi Ekosistem Decision Support and Analytics dalam Penguatan Pemeringkatan Perguruan Tinggi Berdaya Saing Global". Ia menekankan pentingnya pemanfaatan data dan sistem pendukung keputusan sebagai fondasi penguatan tata kelola perguruan tinggi yang adaptif, efektif, dan berdaya saing global.
Wakil Ketua Majelis Guru Besar Unas, Prof. Dr. Suryono Efendi membacakan naskah pengukuhan yang menyatakan ketiga akademisi tersebut resmi menyandang jabatan Guru Besar Universitas Nasional sesuai bidang kepakarannya.
Pengukuhan tiga Guru Besar ini tidak hanya menambah jumlah profesor di lingkungan Unas menjadi 35 orang, tetapi juga memperkuat ekosistem keilmuan yang dimiliki UNAS. Kehadirannya diharapkan semakin memperkokoh posisi Unas menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang menghadirkan solusi bagi kemajuan Indonesia.
