“Pelaku UMKM, pedagang kuliner, penjual oleh-oleh, pelaku usaha hiburan rakyat hingga warga yang membuka jasa parkir merasakan peningkatan pendapatan selama pelaksanaan Grebeg Ageng Yaaqawiyyu,” ujarnya.
Tradisi Yaaqawiyyu sendiri telah berlangsung selama berabad-abad dan menjadi salah satu warisan budaya Indonesia yang memadukan nilai religius, kepedulian sosial, gotong royong, serta semangat kebersamaan. Tradisi ini berawal dari dakwah Kiai Ageng Gribig yang menjadikan apem sebagai media sedekah sekaligus syiar Islam kepada masyarakat.
Seiring perkembangan zaman, Grebeg Ageng Yaaqawiyyu tumbuh menjadi salah satu agenda budaya terbesar di Jawa Tengah yang setiap tahun menarik puluhan ribu pengunjung dari berbagai daerah. Selain menjadi destinasi wisata religi dan budaya, tradisi ini juga terbukti memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat setempat.
“Ajaran Eyang Kiai Ageng Gribig mengajarkan pentingnya bersilaturahmi, bersedekah, berdoa, bertawakal kepada Allah SWT, menjaga persatuan, menghargai keberagaman, bergotong royong, hidup guyub rukun, dan mencintai budaya. Nilai-nilai itu yang terus kami teladani dan lestarikan dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
