POSKOTA.CO.ID - “.. perlu menciptakan visi generasi emas berintegritas yang berarti memiliki karakter kuat, teguh mempertahankan prinsip, memiliki pribadi yang jujur, taat asas, norma dan etika menjadi dasar yang melekat pada diri sendiri sebagai nilai-nilai moral,” -Harmoko-
Anak bukan sekadar keturunan, hasil perkawinan dan buah cinta pasangan yang saling menyayangi. Pada saatnya mereka akan tumbuh besar, dewasa, dan menjadi diri sendiri. Menjadi generasi penerus cita – cita bangsa, pewaris tanah air dan negara kita.
Tak berlebihan jika dikatakan bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu memastikan setiap anak tumbuh sehat, aman, dihargai dan memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensinya.
Kehadiran negara menjadi pilar utama, selain peran kita semua para orang tua dan masyarakat secara keseluruhan. Ini hendaknya menjadi komitmen bersama dalam momentum memperingati Hari Anak Nasional 23 Juli 2026.
Baca Juga: Kopi Pagi: Sehat Mental dan Sosial
Sudahkah itu semua dilaksanakan? Jawabnya masih dalam proses menuju ke sana. Dan, proses ini harus terus berlanjut sebagai upaya menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045.
Bicara Indonesia Emas berarti menyiapkan generasi yang sekarang masih duduk di bangku TK dan sekolah dasar. Merekalah yang akan mengisi ruang - ruang penting kehidupan berbangsa dan bernegara.
Mereka pula yang akan menjadi tenaga ahli untuk membangun negeri ini dengan profesinya masing - masing sebagai insinyur, dokter, guru, dosen, petani, ilmuwan, pengusaha, aparat penegak hukum, auditor hingga pemimpin negeri ini.
Dapat dikatakan mereka adalah wajah Indonesia tahun 2045, sebagai negara maju, modern dan sejajar dengan negara –negara adidaya di dunia, berdaya saing tinggi di panggung global. Itulah konsep Indonesia Emas.
Baca Juga: Kopi Pagi: Pejuang Rakyat
Mampukah target itu tercapai? Jawabnya kita optimis harus dapat dicapai. Tetapi yang lebih mendasar adalah sudahkah kita menyiapkan secara sungguh – sungguh generasi emas sejak sekarang.
Menyiapkan generasi emas tak cukup membentuk anak – anak cerdas dan berkualitas melalui layanan kesehatan dan pendidikan yang berkualitas pula.
Tidak kalah pentingnya pemenuhan atas hak-haknya, perlindungan dari segala bentuk kekerasan, pengasuhan yang positif, ruang bermain dan belajar ayng aman dan partisipasi anak dalam proses pembangunan sesuai usianya.
Semakin tidak kalah pentingnya adalah sikap mentalnya, budi pekertinya, karakter budaya bangsanya , identitas nasionalnya serta etika dan moralitasnya.
Baca Juga: Kopi Pagi: Menjaga Warisan Budaya
Fakta tidak terbantahkan maraknya korupsi belakangan ini bukan soal mereka tidak berkualitas secara intelektualitas, tetapi lebih kepada tiadanya etika dan moralitas.
Itulah mengapa perlu menciptakan visi generasi emas berintegritas yang berarti memiliki karakter kuat, teguh mempertahankan prinsip, memiliki pribadi yang jujur, taat asas, norma dan etika menjadi dasar yang melekat pada diri sendiri sebagai nilai-nilai moral, seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.
Semakin tinggi tingkatan integritasnya, semakin tinggi pula nilai - nilai moral yang melekat pada dirinya. Itulah sebabnya pribadi yang demikian sering disebut memiliki akhlak yang baik, akhlak yang mulia.
Generasi yang berkepribadian demikian yang sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa dan negara pada situasi apa pun dan kapan pun, termasuk di era Indonesia Emas.
Baca Juga: Kopi Pagi: Kenang Kebaikannya
Di era digital yang kian canggih. Era serba instan, di mana dalam sekejap informasi begitu cepat menyebar tanpa batasan waktu dan tempat. Dunia pun dalam genggaman tangan seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.
Pertanyaan kemudian, siapa yang menyiapkan? Jawabnya penguasa generasi era kini, para elite politik dan pejabat negeri yang telah diberi mandat oleh rakyat melalui pemilu.
Ini tugas mulia karena diberi kepercayaan untuk meletakkan pondasi awal atau memperkuat pondasi guna mencetak generasi emas, generasi tangguh yang mampu bersaing di tingkat dunia.
Generasi emas adalah generasi mandiri dalam mengelola negerinya sendiri, tanpa ketergantungan negara lain.
Baca Juga: Kopi Pagi: Gerakan Perubahan
Tak berlebihan sekiranya kemandirian sejak awal wajib menjadi gerakan moral
menuju visi Indonesia ke depan. Mandiri dalam mengelola sumber daya alam, aset – aset negara, mandiri dalam investasi, membangun negeri dengan sekecil mungkin terikat bantuan luar negeri.
Mandiri pula dalam bidang politik dan pemerintahan serta kemandirian dalam kebudayaan sebagai jati diri dan identitas bangsanya.
Kemandirian harus disiapkan sejak dini oleh para elite politik negeri ini yang sekarang memegang tampuk kekuasaan, sebagai pengambil kebijakan untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara.
Membangun generasi emas memang menjadi tugas negara, tetapi kita sebagai bagian dari bangsa hendaknya tidak abai dan duduk goyang kaki saja. Setidaknya menjadi generasi emas untuk diri sendiri, syukur - syukur mampu mencetak generasi emas bagi orang lain.
Selamat Hari Anak Nasional.
