Perlu langkah strategis untuk menghadapinya. mencegah dan memberantas hingga tuntas, sampai ke akar masalahnya.
Komitmen Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tak perlu diragukan lagi. Sejak awal telah membekali para menteri, kepala lembaga, badan hingga kepala daerah agar menjauhi tindakan korupsi. Tidak saja melalui retret, reformasi birokrasi, penataan kembali kelembagaan agar kian tangguh menghadapi korupsi, tak terkecuali penguatan integritas moral para pejabatnya.
Tak kurang peringatan hingga ultimatum sering disampaikan secara langsung dalam berbagai kesempatan kepada aparat dan birokrat negeri ini untuk tidak sekali - kali melakukan korupsi. Hasilnya? Publik yang menilai dengan beragam argumentasinya.
Banyak terungkapnya kasus korupsi belakangan ini pertanda adanya peningkatan gerakan pemberantasan korupsi. Ini yang patut diapresiasi dengan harapan gerakan makin terus digencarkan di semua lini, karena patut diduga tak sedikit kasus yang masih tersembunyi.
Baca Juga: Kejagung Libatkan KPK Tangani Kasus Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Febrie
Selain ketegasan, kian diperlukan kemandirian dalam percepatan pemberantasan korupsi. Dalam artian tidak tunduk pada keinginan pihak tertentu demi melanggengkan ‘pengaruh “ dan “kekuasannya’ baik di bidang politik, ekonomi maupun sosial.
Ini perlu penguatan institusi negara, selain sinergi yang terintegrasi seluruh lembaga penegak hukum mulai dari Polri, Kejaksaan Agung, KPK, BPK hingga lembaga pengawas lainnya dalam memberantas korupsi.
Tak kalah pentingnya adalah integritas para personelnya di segala tingkatan, mulai petugas lapangan hingga para petinggi sebagai penentu dan pengambil kebijakan. Yang kuat dan bersih bukan hanya lembaganya, juga aparat yang menjalankannya.
Terdapat tekad yang kuat dan bulat serta sungguh – sungguh untuk memberantas korupsi, bukan hanya di tataran kebijakan, bukan pula kaya akan retorika, banyak bicara, namun minim aksi nyata.
Dalam pepatah berbahasa Jawa disebut "Kakehan gludhug, kurang udan “ – yang artinya banyak bicara tanpa kenyataan.
Hendaknya para elite, terlebih barisan terdepan pemberantas korupsi meneladani apa yang diucapkan harus selaras dengan yang dilakukan, bukan teriak berantas korupsi, tetapi akhirnya terjerat korupsi.
