Oleh: Yudhie Haryono (Presidium Forum Negarawan)
POSKOTA.CO.ID - Kita adalah negeri bahari yang abai pada ekonomi laut. Padahal, inspirasi terbesar Indonesia adalah arsitektur bangsa Nusantara. Negeri kepulauan yang sentosa karena kemampuannya memaksimalkan ekonomi lautan.
Argumen ini juga dikemukakan sangat baik oleh sejarawan Vlekke (Leiden, 1899) sejak lama. Pada bukunya, ia menghadirkan sejarah Indonesia dalam 16 bab, yang disajikan penuh dengan fakta aktual, memukau dan dijamin akan membuat kita terus membuka satu halaman ke halaman berikutnya soal ekonomi laut yang dahsyat serta menjadi mahakarya bumi nusantara.
Tetapi, satu yang perlu dicatat: kita perlu beberapa waktu untuk mencerna fakta-fakta di dalamnya dan mengaitkannya satu sama lain. Tanpa usaha itu, kita akan gagal menangkap inti dari gagasan buku tersebut.
Pada awalnya, Vlekke punya penjelasan menarik tentang mengapa masyarakat Jawa berbondong-bondong masuk Islam, tapi pada saat yang sama begitu bersahabat dengan tradisi lokal (sinkretis). Para raja Jawa, menurut Vlekke, memilih Islam bukan karena mereka suka dengan agama itu, melainkan karena situasi politik mendorong mereka untuk bertindak demikian.
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: 4 Tahap Peradaban Pangan
Mereka dihadapkan pilihan sulit antara memilih bersekutu dengan Portugis atau bekerjasama dengan Johor dan Demak, yang berarti harus memilih antara Kristen dan Islam. Ini juga yang jadi sebab ekonomi laut terbengkalai: sibuk ritus agama.
Yang ada hubungannya dengan ekonomi laut adalah tema jalur rempah. Tema ini ada di bab 7 berjudul, "Keunggulan dan Kekuatan Laut Di Indonesia." Menurutnya, tanpa membaca sejarah laut indonesia, kita tak tahu nusantara. Sebaliknya, karena mengabaikan laut, indonesia kini paria.
Sungguh disayangkan, potensi besar lautan kita belum dimanfaatkan maksimal. Dalam hal energi laut (ocean energy), misalnya, potensi yang bisa digali mencapai 250.000 MW. Nilai ini jauh lebih besar dari kebutuhan energi nasional 53.000 MW (pada tahun 2016). Namun yang sudah terpasang hanyalah 0,01 MW atau tak lebih dari 0,00000004%.
Inilah sebenarnya kekuatan dan energi bangsa Indonesia. Bukankah bangsa kita sejak dulu dikenal sebagai bangsa pelaut? Lantas mengapa potensi sebesar ini belum juga kita manfaatkan? Padahal energi laut ini memiliki keunggulan yang sungguh spektakuler. Selain potensinya yang jauh melampaui kebutuhan listrik nasional, energi ini juga ramah lingkungan, bahan bakunya melimpah, dan senantiasa terbarukan.
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Sistem Ekopol Pancasila dan Kesejahteraan Sosial
Bandingkan dengan sumber energi uap dari pembakaran batu bara yang masih mendominasi produksi listrik nasional. Selain mencemari lingkungan dengan menghasilkan polusi, batu bara juga merupakan energi tidak terbarukan yang bisa habis ditambang.
Berikut ini beberapa potensi energi laut yang harus kita kembangkan: 1) Panel surya terapung (floating solar panel); 2) Turbin angin laut; 3) Energi panas laut; 4) Energi arus laut.
Sayangnya, elite kita minus gagasan, miskin ide, alergi terobosan. Maka, membaca nusantara mirip membaca mantera: "Jika langit bisa runtuh. Jika bumi bisa dilipat. Jika mimpi bukanlah khayali. Jika revolusi bukanlah harapan jauh. Jika cinta adalah kenyataan. Jika indonesia ternyata kebenaran. Kalian kan kuajak menikmati rembulan dan prahu. Agar merdeka, mandiri, modern dan martabatif." Sedih. Perih.
Di atas segalanya, ide poros maritim; negeri kepulauan; bangsa bahari; dan ide sejenisnya perlu ditulis ulang dan direalisasikan segera dalam tempo sesingkatnya. Mestakung.
Disclaimer: Opini di atas merupakan buah pemikiran penulis. Artikel tersebut tidak mencerminkan pandangan Redaksi Poskota.
