BANTEN, POSKOTA.CO.ID – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Marsudi Syuhud melakukan silaturahmi (sowan) kepada ulama kharismatik Banten, Abuya Muhtadi Dimyathi, pada Sabtu, 11 Juli 2026.
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan khidmat tersebut menjadi momentum bertukar pandangan mengenai masa depan Nahdlatul Ulama (NU) serta peran strategisnya dalam menjaga persatuan bangsa.
Dalam pertemuan itu, keduanya membahas pentingnya NU terus memperkuat jati dirinya sebagai organisasi keagamaan yang mengayomi umat dan menjadi perekat kebangsaan. NU diharapkan mampu menjadi “kereta besar” yang membawa gerbong-gerbong perdamaian, merangkul seluruh elemen masyarakat tanpa membedakan latar belakang, serta menjadi teladan dalam membangun ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah.
KH Marsudi Syuhud menegaskan bahwa di tengah berbagai tantangan sosial, politik, dan perkembangan global, NU memiliki tanggung jawab moral untuk terus menghadirkan Islam yang rahmatan lil ’alamin.
Baca Juga: KH Zulfa Mustofa Disebut Figur Perubahan NU, Dukungan Jelang Muktamar Terus Bermunculan
Karena itu, semangat persatuan, moderasi, dan dakwah yang menyejukkan harus tetap menjadi pijakan utama organisasi.
Selain membahas peran NU dalam menjaga harmoni bangsa, pertemuan tersebut juga menyoroti pentingnya mengembalikan NU kepada khittahnya, yakni sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang berfokus pada dakwah, pendidikan, pemberdayaan umat, dan pelayanan sosial.
Dengan kembali berpegang pada nilai-nilai dasar perjuangan para muassis, NU diyakini akan semakin kuat dalam memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.
Abuya Muhtadi Dimyathi, yang dikenal sebagai salah satu ulama kharismatik dan pengasuh pesantren berpengaruh di Banten, menyambut hangat kedatangan KH Marsudi Syuhud.
Baca Juga: Jelang Muktamar NU, Idrus Marham Dorong Kepengurusan Baru Maksimalkan Potensi Kader
Silaturahmi para ulama seperti ini dinilai penting untuk menjaga kesinambungan nasihat, kebijaksanaan, dan persatuan umat di tengah dinamika kehidupan berbangsa.
