JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan, kawasan transmigrasi bukan sekadar permukiman dan sentra pertanian, tetapi diarahkan jadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Di Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, misalkan, terdapat potensi minyak dan gas bumi. Kawasan transmigrasi di Kalimantan Selatan serta Aceh Besar dan Aceh Barat memiliki cadangan batu bara, sedangkan kawasan transmigrasi di Mamuju, Sulawesi Barat, menyimpan potensi logam tanah jarang (rare earth elements) yang menjadi bahan baku penting bagi industri teknologi modern.
“Era ketika transmigrasi hanya dipandang sebagai kawasan pertanian telah berakhir. Pertanian tetap menjadi fondasi yang penting, tetapi kawasan transmigrasi hari ini juga harus menjadi rumah bagi investasi, industri, hilirisasi, dan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru Indonesia,” kata Iftitah, Jumat, 3 Juli 2026.
Menurutnya, transformasi tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui industrialisasi, hilirisasi, serta penciptaan lapangan kerja yang berkualitas di berbagai daerah.
Baca Juga: Tinjau Pemadaman TPA Jatiwaringin Tangerang, Menteri LH: Titik Api Tersisa 3 Persen
“Kita tidak lagi berbicara hanya tentang pertanian. Ada sektor perkebunan, industri pengolahan, pariwisata, minyak dan gas, batu bara, logam tanah jarang, hingga berbagai potensi ekonomi strategis lainnya yang harus dikembangkan sesuai keunggulan masing-masing daerah,” ujarnya.
Pembangunan kawasan transmigrasi kini dilakukan dengan pendekatan yang berbeda. Fokus pemerintah tidak lagi sekadar membuka lahan atau memindahkan penduduk, melainkan membangun ekosistem investasi yang mampu menciptakan nilai tambah, memperluas kesempatan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Salah sebuah contoh transformasi tersebut tengah berlangsung di kawasan Barelang, Kepulauan Riau. Kementerian Transmigrasi bersama Pemerintah Kota Batam dan BP Batam terus memperkuat kolaborasi untuk menciptakan iklim investasi yang semakin kondusif sehingga kawasan tersebut berkembang sebagai pusat industri baru.
“Investor tidak membutuhkan banyak janji. Yang mereka butuhkan adalah ekosistem yang memberi kepastian. Ketika ekosistem itu terbangun, investasi akan datang, industri berkembang, lapangan kerja tercipta, dan masyarakat menjadi pihak yang paling merasakan manfaatnya,” ucapnya.
Ia menegaskan, keberhasilan transmigrasi saat ini tidak lagi diukur dari banyaknya masyarakat yang dipindahkan ke suatu kawasan, melainkan dari kemampuan kawasan tersebut menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, menarik investasi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
