FBS Unas Gelar Seminar Penguatan Usulan Sutan Takdir Alisjahbana sebagai Pahlawan Nasional 2026

Jumat 03 Jul 2026, 13:50 WIB
Penyerahan Plakat kepada Mensos Saifullah Yusuf dalam seminar di Auditorium Cyber Unas, Pejaten, Jakarta Selatan, Selasa, 30 Juni 2026. (Sumber: Dok. Istimewa)
Penyerahan Plakat kepada Mensos Saifullah Yusuf dalam seminar di Auditorium Cyber Unas, Pejaten, Jakarta Selatan, Selasa, 30 Juni 2026. (Sumber: Dok. Istimewa)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Nasional (Unas) menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk "Menelaah Jejak Kepahlawanan Sutan Takdir Alisjahbana (STA): Kontribusi bagi Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Kebudayaan Indonesia" di Auditorium Cyber UNAS, Pejaten, Jakarta Selatan, Selasa, 30 Juni 2026.

Seminar ini menjadi bagian dari upaya Unas dalam menghimpun dukungan akademik sekaligus memperkuat pengusulan Sutan Takdir Alisjahbana sebagai Pahlawan Nasional 2026.

Kegiatan yang dihadiri lebih dari 300 peserta tersebut mempertemukan akademisi, budayawan, sejarawan, tokoh masyarakat, dosen, mahasiswa, guru, hingga pelajar SMA untuk mengulas secara komprehensif kontribusi STA terhadap perjalanan bangsa Indonesia. Seminar juga menjadi ruang akademik untuk menghimpun gagasan, data, serta perspektif ilmiah mengenai jasa-jasa STA di bidang bahasa, sastra, pendidikan, dan kebudayaan sebagai bahan pendukung pengusulan gelar Pahlawan Nasional.

Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra Unas, Nana Yuliana mengatakan, seminar ini diselenggarakan sebagai bentuk penghormatan terhadap pemikiran dan perjuangan STA yang hingga kini masih relevan dalam pembangunan karakter bangsa.

Baca Juga: Unas Luluskan 1.838 Wisudawan, Tegaskan Peran Kampus Pusat Kebudayaan, Peradaban, dan Etika

"Seminar ini bertujuan menggali kembali kontribusi Sutan Takdir Alisjahbana dalam bidang bahasa, sastra, pendidikan, dan kebudayaan Indonesia maupun internasional. Melalui forum ilmiah ini kami ingin menghadirkan berbagai perspektif akademik yang dapat memperkuat pengusulan beliau sebagai Pahlawan Nasional," kata Nana.

Menurutnya, STA merupakan salah satu tokoh pembaharu Indonesia yang memiliki pengaruh besar dalam memodernisasi bahasa Indonesia hingga menjadi bahasa persatuan bangsa. Pada masa pendudukan Jepang, STA menjadi tokoh pertama yang menyusun Tata Bahasa Indonesia secara sistematis serta memperkenalkan kaidah Menerangkan–Diterangkan (MD) dan Diterangkan–Menerangkan (DM) yang memberikan struktur yang lebih jelas bagi perkembangan bahasa Indonesia.

Tidak hanya di bidang bahasa, STA juga meninggalkan warisan penting dalam dunia sastra melalui karya-karya monumental seperti Layar Terkembang, Dian yang Tak Kunjung Padam, dan Kalah dan Menang. Gagasan-gagasannya melalui gerakan Pujangga Baru serta Polemik Kebudayaan turut membentuk arah perkembangan pemikiran kebudayaan Indonesia yang hingga kini dinilai masih relevan, terutama dalam menghadapi tantangan global dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Dalam bidang pendidikan, STA turut berjuang memperluas akses pendidikan tinggi pada masa kolonial Belanda serta mendirikan Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan (YMIK) sebagai wadah pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan nasional.

Baca Juga: Hadiri Seminar Nasional UPH, Maruarar Sirait Dorong Pendidikan dan Keluarga Fondasi Indonesia Kuat

Sementara itu, Menteri Sosial (Mensos), Saifullah Yusuf menegaskan, kepahlawanan tidak hanya diwujudkan melalui perjuangan fisik, tetapi juga melalui pemikiran dan gagasan yang membawa perubahan besar bagi bangsa.

Ia mengatakan bahwa STA merupakan sosok yang berhasil mengembangkan bahasa Indonesia menjadi bahasa modern sekaligus bahasa ilmu pengetahuan. Menurutnya, jasa tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun komunikasi, pendidikan, dan pelayanan publik di Indonesia.

"Kita sedang membicarakan kepahlawanan yang diwujudkan melalui pena, melalui gagasan, dan melalui perjuangan membangun bangsa. Salah satu warisan terbesar STA adalah mengembangkan bahasa Indonesia menjadi bahasa modern. Saya berharap proses pengusulan ini berjalan lancar sehingga STA dapat ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional,” ujarnya.

Seminar menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang keilmuan, di antaranya sejarawan nasional Anhar Gonggong yang mengulas peran STA dalam kemajuan bangsa Indonesia, budayawan Tommy F. Awuy tentang pemikiran filsafat kebudayaan STA, serta pakar sastra Sunu Wasono mengkaji kontribusi STA terhadap perkembangan sastra Indonesia.

Perwakilan keluarga STA, Tamalia Alisjahbana memaparkan, perjalanan hidup serta perjuangan STA dalam membangun bahasa Indonesia, pendidikan, dan kebudayaan nasional. Rangkaian seminar juga dimeriahkan dengan pembacaan dua puisi karya STA oleh sastrawan senior Taufiq Ismail, yang semakin memperkuat apresiasi terhadap warisan intelektual sang tokoh.

Melalui seminar nasional ini, UNAS berharap semakin banyak dukungan publik dan akademik terhadap pengusulan Sutan Takdir Alisjahbana sebagai Pahlawan Nasional Tahun 2026. Besarnya kontribusi STA dalam membangun bahasa Indonesia, memperkaya khazanah sastra, memajukan pendidikan, serta membentuk arah kebudayaan bangsa dinilai menjadi warisan yang layak memperoleh penghargaan tertinggi dari negara.


Berita Terkait


News Update