Ia mengatakan bahwa STA merupakan sosok yang berhasil mengembangkan bahasa Indonesia menjadi bahasa modern sekaligus bahasa ilmu pengetahuan. Menurutnya, jasa tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun komunikasi, pendidikan, dan pelayanan publik di Indonesia.
"Kita sedang membicarakan kepahlawanan yang diwujudkan melalui pena, melalui gagasan, dan melalui perjuangan membangun bangsa. Salah satu warisan terbesar STA adalah mengembangkan bahasa Indonesia menjadi bahasa modern. Saya berharap proses pengusulan ini berjalan lancar sehingga STA dapat ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional,” ujarnya.
Seminar menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang keilmuan, di antaranya sejarawan nasional Anhar Gonggong yang mengulas peran STA dalam kemajuan bangsa Indonesia, budayawan Tommy F. Awuy tentang pemikiran filsafat kebudayaan STA, serta pakar sastra Sunu Wasono mengkaji kontribusi STA terhadap perkembangan sastra Indonesia.
Perwakilan keluarga STA, Tamalia Alisjahbana memaparkan, perjalanan hidup serta perjuangan STA dalam membangun bahasa Indonesia, pendidikan, dan kebudayaan nasional. Rangkaian seminar juga dimeriahkan dengan pembacaan dua puisi karya STA oleh sastrawan senior Taufiq Ismail, yang semakin memperkuat apresiasi terhadap warisan intelektual sang tokoh.
Melalui seminar nasional ini, UNAS berharap semakin banyak dukungan publik dan akademik terhadap pengusulan Sutan Takdir Alisjahbana sebagai Pahlawan Nasional Tahun 2026. Besarnya kontribusi STA dalam membangun bahasa Indonesia, memperkaya khazanah sastra, memajukan pendidikan, serta membentuk arah kebudayaan bangsa dinilai menjadi warisan yang layak memperoleh penghargaan tertinggi dari negara.
