Kopi Pagi: Safari Politik Membangun Harmoni, Bukan Distorsi

Senin 29 Jun 2026, 07:00 WIB
Ilustasi Kopi Pagi. (Sumber: Poskota)
Ilustasi Kopi Pagi. (Sumber: Poskota)

POSKOTA.CO.ID - Safari politik hendaknya menjadi inspirasi sebagai kata kunci mencapai cita – cita negeri, terwujudnya kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Safari politik membangun komunikasi politik yang lebih harmoni, bukan memunculkan distorsi.” -Harmoko-

Selama bulan puasa kita kenal istilah Safari Ramadan, datang hari raya, Safari Lebaran, usai lebaran berlanjut ke Safari Halal Bihalal. Itu momen safari yang lazimnya dilakukan elite politik dalam rangka membangun silaturahmi dan komunikasi, termasuk menyerap aspirasi rakyat.

Dengan momen tersebut, diharapkan safari, dalam artian sebuah perjalanan akan lebih terasa hikmahnya, baik aspek religi dan sosial.

Yang jelas, safari memiliki maksud dan tujuan. Safari Ramadan misalnya adalah kunjungan atau perjalanan yang dilakukan secara rutin oleh pemerintah, lembaga, instansi ke berbagai wilayah dengan tujuan utama mempererat tali silaturahmi, di antaranya melalui buka puasa dan tarawih bersama bersama masyarakat.

Baca Juga: Kopi Pagi : Cepat dan Bijak

Selain menjadi media informasi dan komunikasi bagi pemerintah untuk menyampaikan program – program kerja yang telah, sedang dan akan berjalan, tak kalah pentingnya menyerap secara langsung aspirasi masyarakat.

Bersilaturahmi langsung dengan komunitas petani, nelayan, pelaku usaha rumahan dan beragam komunitas masyarakat lainnya guna melihat kondisi riil kehidupan masyarakat dalam segala aspeknya.

Kesulitan dan masalah yang mereka hadapi, apa yang dibutuhkan, apa yang dikehendaki dan mana yang menjadi prioritas. Sering disebut merasakan denyut nadi masyarakat sebagai landasan utama dalam mengambil kebijakan yang benar – benar pro rakyat.

Lantas bagaimana dengan safari di luar momen tersebut? Jawabnya boleh – boleh saja,jika dianggap perlu, karena sejatinya tak ada larangan, tak ada batasan waktu dan tempat bagi seseorang untuk melakukan perjalanan,  termasuk safari politik.

Baca Juga: Kopi Pagi: Menguatkan Kedaulatan dan Kemandirian

Sebagaimana dengan sebuah perjalanan , tentu memiliki maksud dan tujuan yang hendak dicapai. Dalam konteks safari politik, lazimnya sebuah perjalanan  membangun konsolidasi, menjaring dukungan publik, meningkatkan popularitas dan elektabilitas.

Safari politik tak lepas dari upaya membangun pencitraan atas dirinya, partai politik yang didukungnya, termasuk kandidat yang dijagokan memimpin bangsa ke depan lewat pesan, sikap dan komitmen politik yang disampaikan.

Jika safari politik dimaknai sebagai bagian dari kampanye menuju pemilu 2029, tidaklah berlebihan karena tujuan safari adalah konsolidasi politik menghadapi pemilu mendatang, baik pemilu nasional maupun daerah. Baik pilpres, pileg dan pilkada.

Safari politik bagi elite politik juga bagian dari “uji publik” terkait popularitas dan elektabilitasnya. Respons publik berupa dukungan atau, mungkin penolakan atas safari yang dilakukan dapat menjadi indikasi, sejauh mana popularitas dan elektabilitasnya masih tetap tinggi, stagnan atau malah bertambah rendah.

Baca Juga: Kopi Pagi: Subsidi Silang Kian Dibutuhkan

Membangun pencitraan atas dirinya, parpolnya serta kandidat yang bakal dicalonkan pada pemilu mendatang adalah sah – sah saja. Komitmen politik adalah memperteguh sikap, namun keteguhan sikap tersebut bukan lantas menutup ruang perbedaan.

Beda sikap harus dihargai, termasuk pihak yang tidak merespons safari. Yang diperlukan merawat perbedaan menuju terbangunnya persatuan dan kesatuan. Bukan sebaliknya, mempertentangkan perbedaan,terlebih tujuan safari mencari – cari kesalahan dan keburukan pihak lain.

Jika ini yang dilakukan, safari bukan membangun konsolidasi, tetapi distorsi. Ini demokrasi yang tidak sehat, tak sesuai dengan nilai – nilai luhur budaya bangsa yang berfalsafah Pancasila.

Karenanya, safari politik tak sebatas membangun konsolidasi, tetapi jadikan sebagai momen menyerap aspirasi sebagai landasan merumuskan kebijakan partai menyongsong masa depan.

Baca Juga: Kopi Pagi: Subsidi Silang Kian Dibutuhkan

Memperjuangkan dan mengawal aspirasi rakyat pada era pemerintahan mendatang, siapa pun presidennya. Bukan memanfaatkan aspirasi rakyat guna memperoleh kemenangan, tetapi  rakyat ditinggalkan , begitu memperoleh kekuasaan.

Dalam safari politik apa pun polanya, hendaknya perlu terus dikembangkan oleh para elite politik dan tokoh bangsa dalam membangun komunikasi politik yang lebih harmoni, bukan memunculkan distorsi.

Safari politik hendaknya menjadi inspirasi sebagai kata kunci mencapai cita – cita negeri, terwujudnya kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.

Rumusan ini kian urgen, lebih – lebih di era kini, di tengah masih adanya tekanan ekonomi, politik dan sosial. Belum lagi situasi global yang masih belum pasti.

Dalam pepatah Jawa dikenal “Amemangun karyenak tyasing sesama” yang dalam serat Wedhatama karya Mangkunegara IV, disebutkan bahwa selalu berusaha berbuat baik dengan orang lain, menyenangkan hati sesama.

Yang dimaksud tidak menyebabkan permusuhan, pertengkaran, dan perseteruan. Tidak pula menyakiti dan menghakimi, tetapi menolong tanpa pamrih. Memanusikan manusia.

Mari memajukan negeri dengan membangun harmoni.


Berita Terkait


undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Lebaran Politik

undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Peduli Nelayan

undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Politik Tebar Empati

News Update