“Kalau terdapat kritik dalam layanan itu masukan dari upaya perbaikan. Karenanya tak perlu alergi terhadap kritik karena kritik itu tak ubahnya obat kuat, pengawal jiwa kita.Tak ada orang jatuh dan hina diri karena kritikan. Kritik harus disikapi secara bijak, legowo dan rendah hati,” jelas mas Bro.
“Lantas masukan untuk penguatan layanan publik seperti apa?,” tanya Heri.
“Saya sampaikan juga “Kritik”. Tapi kritik dimaksud adalah akronim dari: Keterbukaan (transparansi), Responsif, Implementatif, Terpercaya, Integritas dan Keteladanan,” kata mas Bro.
“Itu diuraikan?,” tanya Yudi.
“Secara singkat, tak perlu rinci karena saya meyakini undangan yang hadir pasti lebih mampu memaknai ketimbang saya,” kta mas Bro.
“Lalu bagaimana dengan kualitas layanan publik di DJKN?,” tanya Yudi lagi.
“Tak perlu diragukan lagi, skor indek pelayanan publik DJKN sudah mencapai 4,83, mendekati angka sempurna 5. Ibarat nilai ujian B+plus,” kata mas Bro.
“Tapi sepertinya kurang terpublikasi ya,” kata Heri.
“Itu yang saya sampaikan di sela forum hendaknya DJKN lebih menguatkan publikasi. Selain banyak hal positif yang perlu diketahui publik, sekaligus kian mendekatkan layanan DJKN kepada masyarakat. Poskota siap mendukung penguatan publikasi dimaksud,” kata mas Bro.
“Promosi ya?” sindir Yudi.
“Loh membangun kemitraan dan kebersamaan itu perlu, terlebih dalam rangka DJKN memberikan layanan terbaiknya kepada publik,” kata mas Bro.
