Idrus Marham : Cara Pandang Regionalistik Itu Naif, Polemik Film Pesta Babi Harus jadi Momentum Menguatkan Nasionalisme

Senin 08 Jun 2026, 17:09 WIB
Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bidang Kebijakan Publik Idrus Marham. (Sumber: Poskota/Pandi Ramedhan)

Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bidang Kebijakan Publik Idrus Marham. (Sumber: Poskota/Pandi Ramedhan)

Karena itu, Idrus mengingatkan pentingnya membedakan antara kritik yang berbasis fakta, data dengan narasi yang dibangun dari kesimpulan yang belum tentu sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Dalam konteks pembangunan di Merauke, Idrus menilai salah satu persoalan mendasar yang sering muncul adalah kecenderungan melihat berbagai isu melalui kacamata regionalisme yang sempit.

Cara pandang seperti itu, menurut dia, tidak hanya keliru tetapi juga berpotensi merusak fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Baca Juga: Film Pesta Babi Bercerita Tentang Apa dan Siapa yang Buat? Ini Sinopsis dan Sosok di Baliknya

"Patut disadari, sudah terlalu lama kesadaran kolektif kita diobok-obok oleh pola pikir yang secara halus tetapi terus-menerus menguatkan rasa nafsi-nafsi kedaerahan. Seolah-olah loyalitas pertama dan terakhir seseorang hanya kepada daerah asalnya, bukan kepada Indonesia," ujarnya.

Idrus mengatakan, tanpa disadari banyak orang masih memandang Indonesia dalam sekat-sekat wilayah yang sempit.

Jawa dianggap hanya milik orang Jawa, Sumatra hanya milik orang Sumatra, Sulawesi hanya milik orang Sulawesi, Kalimantan hanya milik Orang Kalimantan, Bali hanya orang Bali, dan Papua hanya milik orang Papua.

Padahal, menurut Idrus, semangat yang melahirkan Indonesia justru sebaliknya. Para pendiri bangsa membangun negara ini di atas kesadaran kolektif bahwa seluruh wilayah Nusantara merupakan satu kesatuan politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

"Kerangka berpikir seperti itu bukan sekadar naif, tetapi sangat berbahaya karena menggerogoti sendi paling fundamental dari cita-cita kemerdekaan kita, yaitu persatuan Indonesia," katanya.

Idrus mengaku tidak ingin terjebak pada perdebatan mengenai motif di balik pembuatan film Pesta Babi. Ia menghormati hak para pembuat film untuk menyampaikan pandangan dan kritik melalui karya yang dibuat.

Namun, ia juga menegaskan bahwa masyarakat memiliki hak yang sama untuk memberikan penilaian kritis terhadap karya tersebut.

Menurut dia, dalam demokrasi tidak ada satu pun karya yang kebal dari kritik. Karena itu, seluruh pandangan yang berkembang harus diuji melalui fakta dan kondisi nyata di lapangan.


Berita Terkait


News Update