POSKOTA.CO.ID - Nilai tukar rupiah yang disebut telah menyentuh level Rp18.000 per dolar AS menjadi perhatian publik. Kenaikan kurs dolar tersebut memicu kekhawatiran masyarakat karena dinilai dapat berdampak langsung terhadap berbagai kebutuhan dan aktivitas ekonomi sehari-hari.
Meski Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyatakan bahwa sebagian besar masyarakat, khususnya di pedesaan, tidak bertransaksi menggunakan dolar AS, sejumlah pengamat menilai pelemahan rupiah tetap memiliki efek luas terhadap kehidupan masyarakat.
Pandangan tersebut turut disampaikan akun X @bospurwa dalam unggahan yang beredar pada 6 Juni 2026.
Dalam unggahannya, ia menguraikan sejumlah konsekuensi yang berpotensi muncul apabila kurs dolar terus bertahan di level tinggi.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini 5 Juni 2026 Melonjak ke Rp2.770.000 per Gram, Jual Sekarang?
Harga Kebutuhan Sehari-hari Berpotensi Naik

Salah satu dampak yang paling cepat dirasakan adalah kenaikan harga barang. Melemahnya rupiah membuat biaya impor menjadi lebih mahal, baik untuk bahan pangan, obat-obatan, maupun berbagai produk kebutuhan harian.
Akibatnya, sejumlah komoditas yang akrab di meja makan masyarakat seperti beras, minyak goreng, mi instan, roti, daging, susu, telur, tahu, dan tempe berpotensi mengalami kenaikan harga secara bertahap.
Ongkos Hidup Makin Berat
Kurs dolar yang tinggi juga dapat memberikan tekanan pada sektor energi. Harga BBM nonsubsidi, gas, maupun biaya listrik berpotensi mengalami kenaikan atau setidaknya sulit mengalami penurunan.
Kondisi tersebut kemudian berdampak pada biaya transportasi, termasuk angkutan umum dan layanan ojek online. Selain itu, biaya distribusi barang yang meningkat dapat memicu kenaikan harga produk di tingkat konsumen.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini 1 Juni 2026 Stabil di Rp2.799.000 per Gram, Masih Layak Dibeli?
Gaji Terasa Tidak Lagi Cukup
Ketika harga barang dan berbagai tagihan meningkat sementara pendapatan tidak mengalami kenaikan yang sebanding, daya beli masyarakat cenderung melemah.
