Meski begitu, Lusi mengakui kehadiran platform digital juga memberikan manfaat karena membantu pedagang menjangkau konsumen dari berbagai daerah.
Namun, ia mengeluhkan tingginya potongan biaya yang dibebankan marketplace kepada penjual. Selain itu, sistem pembayaran cash on delivery (COD) juga dinilai kerap merugikan pelaku usaha.
“Online memang membantu, tapi potongannya cukup besar. Belum lagi kalau ada pembeli COD yang membatalkan pesanan setelah barang dikirim,” katanya.
Pedagang Harap Pemerintah Beri Dukungan untuk Usaha di Pasar Glodok
Di tengah kondisi usaha yang belum pulih sepenuhnya, para pedagang berharap pemerintah tidak menambah beban pelaku usaha kecil melalui kebijakan yang berpotensi meningkatkan biaya operasional.
Lusi juga meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan perhatian lebih terhadap keberlangsungan usaha para pedagang di Pasar Glodok.
Menurutnya, yang paling dibutuhkan saat ini bukan sekadar perbaikan fasilitas, melainkan dukungan terhadap biaya operasional dan perawatan kawasan perdagangan agar aktivitas usaha tetap berjalan.
“Kalau fasilitas sebenarnya tidak terlalu berpengaruh. Yang penting biaya operasional dan maintenance diperhatikan. Kami berharap ada perhatian lebih untuk pedagang di Pasar Glodok,” ujarnya.
Para pedagang berharap pemerintah dapat lebih aktif menyerap aspirasi pelaku usaha sehingga pusat perdagangan elektronik legendaris di Jakarta tersebut tetap bertahan di tengah perubahan pola belanja masyarakat dan persaingan bisnis yang semakin ketat.
