TAMANSARI, POSKOTA.CO.ID – Pedagang elektronik di Pasar Glodok, Jakarta Barat, mengeluhkan penurunan omzet penjualan yang terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut diperparah oleh sepinya pengunjung serta meningkatnya persaingan dengan platform belanja online.
Salah seorang pedagang elektronik di Pasar Glodok, Lusi, 27 tahun, mengatakan penjualan di tokonya belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan meski pandemi Covid-19 telah lama berlalu.
“Untuk sekarang penjualan masih drop. Kadang naik turun, tapi belum stabil,” ujar Lusi saat ditemui di Pasar Glodok, Minggu, 7 Juni 2026.
Menurutnya, saat pandemi Covid-19 melanda, penjualan secara langsung di toko memang mengalami penurunan tajam. Namun saat itu penjualan melalui platform online masih mampu menopang pendapatan usaha.
Baca Juga: Langkah Raymond/Joaquin di Final BWF Super 1000 Perkuat Optimisme Regenerasi Bulu Tangkis Indonesia
“Waktu pandemi, penjualan online masih lumayan membantu. Tapi setelah pandemi justru ikut menurun,” katanya.
Omzet Penjualan Elektronik Anjlok Lebih dari 50 Persen
Lusi mengungkapkan, jika dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi, omzet penjualan elektronik saat ini merosot lebih dari 50 persen.
“Turunnya jauh, lebih dari 50 persen dibanding dulu,” ungkapnya.
Ia menilai maraknya penjualan barang elektronik melalui marketplace menjadi salah satu penyebab utama menurunnya jumlah pembeli yang datang langsung ke toko.
Menurut Lusi, banyak konsumen kini lebih memilih berbelanja secara online karena harga yang ditawarkan cenderung lebih murah dibandingkan toko fisik.
“Di marketplace banyak yang jual dengan harga lebih rendah. Pembeli jadi membandingkan harga dan akhirnya memilih belanja online,” tuturnya.
Pedagang Soroti Potongan Marketplace dan Risiko COD
Meski begitu, Lusi mengakui kehadiran platform digital juga memberikan manfaat karena membantu pedagang menjangkau konsumen dari berbagai daerah.
Namun, ia mengeluhkan tingginya potongan biaya yang dibebankan marketplace kepada penjual. Selain itu, sistem pembayaran cash on delivery (COD) juga dinilai kerap merugikan pelaku usaha.
“Online memang membantu, tapi potongannya cukup besar. Belum lagi kalau ada pembeli COD yang membatalkan pesanan setelah barang dikirim,” katanya.
Pedagang Harap Pemerintah Beri Dukungan untuk Usaha di Pasar Glodok
Di tengah kondisi usaha yang belum pulih sepenuhnya, para pedagang berharap pemerintah tidak menambah beban pelaku usaha kecil melalui kebijakan yang berpotensi meningkatkan biaya operasional.
Lusi juga meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan perhatian lebih terhadap keberlangsungan usaha para pedagang di Pasar Glodok.
Menurutnya, yang paling dibutuhkan saat ini bukan sekadar perbaikan fasilitas, melainkan dukungan terhadap biaya operasional dan perawatan kawasan perdagangan agar aktivitas usaha tetap berjalan.
“Kalau fasilitas sebenarnya tidak terlalu berpengaruh. Yang penting biaya operasional dan maintenance diperhatikan. Kami berharap ada perhatian lebih untuk pedagang di Pasar Glodok,” ujarnya.
Para pedagang berharap pemerintah dapat lebih aktif menyerap aspirasi pelaku usaha sehingga pusat perdagangan elektronik legendaris di Jakarta tersebut tetap bertahan di tengah perubahan pola belanja masyarakat dan persaingan bisnis yang semakin ketat.
