Ya. Kini kita terlalu banyak didatangi bangsawan yang tak menemukan bangsanya; negarawan tak memikirkan negaranya; ilmuwan tak menjaga moralnya; agamawan menampilkan watak rakusnya; ekonom pengemis ke luar, sambil pemalak yang jahatnya tidak tak termaafkan.
Siklus perbudakan bangsa oleh bangsa sendiri ini hanya bisa dipatahkan dengan revolusi pancasila. Dan, kitalah subjeknya. Sebab kitalah patriot pancasila.
Semua patriot harus yakin karena dalam keteraturan akan ada keacakan. Dalam hegemoni, akan ada kontranya. Dalam harmoni akan ada chaos: centripetal dan centrifugal. Dua yang satu dan satu yang dua. Inilah teori fraktal.
Tentu, ini teori yang mencoba memodelkan proses rumit dengan mencari proses sederhana yang ada di kelanjutannya. Teori ini didasarkan pada prinsip bahwa proses sederhana yang diulang-ulang secara tak terbatas akan menjadi proses yang sangat rumit tetapi ujungnya akan ada yang sederhana. Begitu seterusnya.
Seperti kita yang hidup untuk mati dan mati untuk hidup. Kita masih di sini, berdiri untuk duduk dan duduk untuk berdiri. Bersama firman profan yang semakin lusuh berisi puja puji plus caci maki tentang penjahat dan patriot yang semakin lama pudar oleh waktu. Para penjahat makin lupa dan sombong. Lupa bahwa kita semua mau mati; lupa rumput semakin kering, nahkoda semakin miring, rakyat semakin banyak yang sinting.
Semoga upaya dekolonialisasi ini berhasil. Agar kita bahagia, adil, dan sentosa.
