Oleh : Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID – Setiap tanggal 1 Juni kita peringati sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Memaknai peringatan, tak sebatas menjadikan momentum mengenang kembali sejarah perumusan kelahiran dasar negara kita.
Tidak juga berhenti pada peringatan seremonial semata, terlebih penting adalah memastikan nilai-nilai luhur Pancasila telah diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
“Dalam bahasa sederhana nilai – nilai Pancasila telah kita praktikkan dalam kehidupan sehari – hari oleh siapa pun, di mana pun dan kapan pun,” ujar bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
“Karena Pancasila bukan hafalan, tapi pengamalan, meski teks Pancasila kita juga harus hafal, nggak boleh salah baca teks, dan urutannya. Jangan sampai memimpin upacara, salah ucap teks Pancasila,” kata Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Safari Politik Uji Respons Publik
“Hafalan penting, pengamalan tak kalah pentingnya. Upacara, pidato dan peringatan tahunan penting, tetapi jangan sampai kehilangan makna , jika tidak disertai implementasi nyata dalam kehidupan sehari – hari,” urai mas Bro.
“Dalam momen peringatan Hari Kelahiran Pancasila ini dapat dijadikan momentum untuk merefleksi diri kita: sudah sejauh mana kita mengamalkan nilai-nilai dari kelima sila Pancasila,” kata Heri.
“Bukan kita saja, juga sudah sejauh mana para elite politik dan pejabat publik telah mengamalkannya melalui ucapan dan perbuatan. Sejauh mana kebijakan pemerintah dan kelembagaan telah berjalan sesuai nilai-nilai luhur falsafah bangsa kita,” jelas mas Bro.
“Sudahkah pengambilan keputusan sesuai dengan semangat sila keempat Pancasila yang mengamanatkan musyawarah dan kebijaksanaan untuk mewujudkan kepentingan umum dan kesejahteraan rakyat. Bukan dengan pemaksaan kehendak untuk kepentingan sepihak, baik nyata atau terselubung,” kata Heri.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Keterwakilan Perempuan, Tak Sebatas Angka
“Menjadi tantangan aktual bagi kita semua untuk menghidupkan Pancasila dalam jiwa kita, agar tidak menjadi teks mati di atas kertas dan lembaran menempel di dinding. Bukan semata- mata hafalan anak sekolah dan bagian dari seremonial belaka,” urai mas Bro.
“Setuju Bro. Kita mewarisi Pancasila dengan nilai - nilainya sebagai ideologi yang hidup, bukanlah semata - mata slogan melainkan petunjuk lengkap bagaimana kehidupan sehari hari kita lakukan,” kata Heri.
“Itulah perlunya keteladanan para tokoh dan pemimpin bangsa di semua tingkatan. Ingat, generasi era kini tidak hanya memerlukan narasi, tetapi bukti konkret dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara dari para pemimpin mereka,” ujar Yudi.
“Jangan cuma rajin hadir dalam kata – kata dan wicara, tetapi absen dalam perbuatan. Jangan kaya retorika, tapi miskin aksi nyata. Mari kita perkuat aksi nyata dalam kehidupan kita,” harap mas Bro.
