Kopi Pagi: Mitigasi Krisis

Senin 25 Mei 2026, 06:25 WIB
Kopi Pagi edisi Senin, 25 Mei 2026. (Sumber: Poskota)
Kopi Pagi edisi Senin, 25 Mei 2026. (Sumber: Poskota)

POSKOTA.CO.ID - “Yang dibutuhkan adalah membangkitan semangat "sense of crisis" terhadap suasana yang sedang mendera kehidupan masyarakat kita melalui keteladanan para elite dan pejabat publik. Diperlukan juga kecepatan merespons dengan aksi nyata mulai dari pikiran, ucapan dan perbuatan," kata Harmoko.

Indonesia berpengalaman menghadapi krisis ekonomi adalah fakta adanya. Berhasil keluar dari krisis ekonomi yang melanda dunia, tidak juga terbantahkan.

Sejak era reformasi Indonesia menghadapi beragam tantangan besar, tak terkecuali krisis ekonomi dunia. Pada 2008, dunia dilanda resesi, ekonomi jeblok, dengan pertumbuhan minus satu persen, Indonesia menorehkan angka 4,6 persen, nomor tiga tertinggi di dunia.

Indonesia lolos dari resesi, terlepas dari berbagai persoalan internal yang menyertainya akibat kondisi ekonomi dunia terus didera masalah akibat perang dagang antara AS dan China pada 2017-2019. Disusul pelemahan struktur ekonomi dunia, termasuk perekonomian negeri kita saat Pandemi Covid-19 pada 2020.

Baca Juga: Kopi Pagi : Cepat dan Bijak

Baru bebas dari pandemi, dunia kembali terguncang perang Rusia-Ukraina. Tahun 2023 dikenal dengan sebutan tahun kegelapan sebagaimana prediksi "2023 Is gonna be dark" atau dunia menjadi gelap.

Di saat dunia dibayangi awan gelap, Indonesia terlewati, karena pondasi perekonomian yang cukup kuat menghadang resesi, meski mencuat pendapat bahwa negeri kita aman dari resesi bukan karena hebat. tetapi lebih karena keterkaitan dengan ekonomi dunia relatif kecil. Kurang terhubung dengan dunia – less connected terhadap apa yang terjadi di dunia.

Lepas dari persoalan ekonomi yang terus mendera, agenda politik lima tahunan dalam negeri berjalan sesuai pentahapan. Gelaran pemilu serentak tahun 2024 kian memperkuat perekonomian lokal, di tengah ancaman resesi global.Sering disebut pemilu itu berkah.

Hasilnya seperti yang kita saksikan sekarang. Terbentuknya kekuasaan eksekutif dan legislatif baik di pusat maupun daerah.

Baca Juga: Kopi Pagi: Bersama Tanpa Prasangka dan Curiga

Kini, tantangan bukannya semakin ringan, malah bertambah berat dan kompleks. Tidak terbantahkan, negeri kita saat ini sedang menghadapi tantangan geopolitik dan geoekonomi global yang penuh konflik, ketegangan, dan ketidakpastian.

Peperangan di banyak tempat, di Eropa dan Timur Tengah, meski jauh dari wilayah kita, tetapi dampak dan imbasnya sudah kita rasakan bersama. Telah memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan kita, di antaranya imbas naiknya harga minyak dunia dan bahan baku impor yang menekan anggaran negara.

Belum lagi dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sekarang lagi menjadi perbincangan publik. Rupiah tertekan hingga menyentuh angka Rp17.677 per dolar AS, terendah sepanjang sejarah.

Sementara itu, kita tidak tahu pasti sampai kapan dunia tidak baik-baik saja, kapan perang fisik berakhir, belum lagi perang dagang, perang politik dan ideologi serta perang-perang yang lain yang mau tidak mau akan berimbas kepada kehidupan masyarakat kita.

Awan gelap masih menghantui dunia, potensi krisis berada di depan mata yang dapat terjadi kapan saja dan menimpa negara mana saja.

Yang hendak saya katakan Indonesia tak lepas dari potensi krisis dunia, tak ubahnya potensi bencana yang mengelilingi negeri kita.

Baca Juga: Kopi Pagi: Mari Berbenah Diri

Dapat diibaratkan,sebagian besar penduduk Indonesia “bernapas di tengah lingkaran bencana”. Bagaimana tidak, sekitar 150 juta jiwa bermukim dan beraktivitas di 386 kabupaten/kota zona rawan gempa bumi.

Sedikitnya 5 juta warga pada 233 kabupaten/kota berisiko diterjang tsunami. Sekitar 1,2 juta jiwa di 75 kabupaten/kota terancam erupsi gunung berapi. Belum lagi 63,7 juta jiwa yang bermukim di 315 kabupaten/kota rawan banjir, dan sekitar 40,9 juta jiwa tinggal di 274 kabupaten/kota rawan longsor.

Kerawanan ini menuntut mitigasi bencana yang bisa datang tanpa dinyana. Early warning system (sistem peringatan dini) lazimnya menjadi panduan awal untuk mengurangi risiko (mitigasi) bencana, sekaligus memudahkan evakuasi jika bencana menjadi nyata.

Peringatan bencana harus terus update secara real time dan terpercaya agar masyarakat siaga menghadapi bencana, bukan menutupi situasi yang pada akhirnya menimbulkan banyak korban jiwa.

Dalam mitigasi bencana yang perlu dibangun adalah masyarakatnya, baik secara fisik, mental, moral dan budaya mulai dari upaya pencegahan dini, siaga bencana, hingga memperkuat daya tahan menghadapi pasca-bencana.

Pada erupsi gunung berapi misalnya, berdasarkan studi akademis, data empiris dan kondisi realistis, dapat diprediksi masyarakat yang paling terdampak, setengah terdampak dan kurang terdampak semburan awan panas – masyarakat Yogya mengistilahkan wedus gembel.

Dengan begitu mitigasi bencana dapat dilakukan tepat sasaran, bukan asal-asalan, terlebih pembiaran.

Mitigasi semacam ini dapat diselaraskan dalam memitigasi potensi krisis ekonomi dunia yang berimbas kepada kehidupan kita.

Yang dibutuhkan adalah membangkitan semangat "sense of crisis" terhadap suasana yang sedang mendera kehidupan masyarakat kita melalui keteladanan para elite dan pejabat publik, seperti dikatakan Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.

Ini menyoal dua hal utama. Pertama, kepekaan untuk mendengar apa yang sebenarnya menjadi keresahan dan permasalahan publik. Kedua, kewaspadaan dalam mempersiapkan pilihan strategi terbaik yang akan dijadikan sebagai solusi atas persoalan krisis yang dihadapi.

Ini perlu ditunjang dengan kepandaian membaca keadaan, kemampuan segera merespons situasi yang akan, sedang dan telah terjadi. Tentu merespons dengan aksi nyata mulai dari pikiran, ucapan dan perbuatan.

Dengan begitu diharapkan dapat menentukan waktu yang tepat kapan harus bersikap, apa yang harus disikapi. Kapan harus berpikir, berbicara dan kapan pula harus diam, tetapi bukan pembiaran, terlebih menutupi keadaan.

Dengan pandai membaca keadaan, dapat menentukan waktu yang tepat kapan harus bergerak dan bertindak memberikan manfaat bagi kemaslahatan umat.

Mari kita mitigasi krisis, setidaknya yang bakal terjadi di lingkungan kita sendiri, di tengah situasi yang sedang tidak baik-baik saja. (Azisoko)


Berita Terkait


undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Taat Kontrol Diri

undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Lebaran Politik

undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Peduli Nelayan

News Update