Peperangan di banyak tempat, di Eropa dan Timur Tengah, meski jauh dari wilayah kita, tetapi dampak dan imbasnya sudah kita rasakan bersama. Telah memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan kita, di antaranya imbas naiknya harga minyak dunia dan bahan baku impor yang menekan anggaran negara.
Belum lagi dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sekarang lagi menjadi perbincangan publik. Rupiah tertekan hingga menyentuh angka Rp17.677 per dolar AS, terendah sepanjang sejarah.
Sementara itu, kita tidak tahu pasti sampai kapan dunia tidak baik-baik saja, kapan perang fisik berakhir, belum lagi perang dagang, perang politik dan ideologi serta perang-perang yang lain yang mau tidak mau akan berimbas kepada kehidupan masyarakat kita.
Awan gelap masih menghantui dunia, potensi krisis berada di depan mata yang dapat terjadi kapan saja dan menimpa negara mana saja.
Yang hendak saya katakan Indonesia tak lepas dari potensi krisis dunia, tak ubahnya potensi bencana yang mengelilingi negeri kita.
Baca Juga: Kopi Pagi: Mari Berbenah Diri
Dapat diibaratkan,sebagian besar penduduk Indonesia “bernapas di tengah lingkaran bencana”. Bagaimana tidak, sekitar 150 juta jiwa bermukim dan beraktivitas di 386 kabupaten/kota zona rawan gempa bumi.
Sedikitnya 5 juta warga pada 233 kabupaten/kota berisiko diterjang tsunami. Sekitar 1,2 juta jiwa di 75 kabupaten/kota terancam erupsi gunung berapi. Belum lagi 63,7 juta jiwa yang bermukim di 315 kabupaten/kota rawan banjir, dan sekitar 40,9 juta jiwa tinggal di 274 kabupaten/kota rawan longsor.
Kerawanan ini menuntut mitigasi bencana yang bisa datang tanpa dinyana. Early warning system (sistem peringatan dini) lazimnya menjadi panduan awal untuk mengurangi risiko (mitigasi) bencana, sekaligus memudahkan evakuasi jika bencana menjadi nyata.
Peringatan bencana harus terus update secara real time dan terpercaya agar masyarakat siaga menghadapi bencana, bukan menutupi situasi yang pada akhirnya menimbulkan banyak korban jiwa.
Dalam mitigasi bencana yang perlu dibangun adalah masyarakatnya, baik secara fisik, mental, moral dan budaya mulai dari upaya pencegahan dini, siaga bencana, hingga memperkuat daya tahan menghadapi pasca-bencana.
Pada erupsi gunung berapi misalnya, berdasarkan studi akademis, data empiris dan kondisi realistis, dapat diprediksi masyarakat yang paling terdampak, setengah terdampak dan kurang terdampak semburan awan panas – masyarakat Yogya mengistilahkan wedus gembel.
