Kopi Pagi: Politik Tebar Empati

Kamis 07 Mei 2026, 10:21 WIB
Kopi Pagi hari ini. (Sumber: Poskota/Arif Setiadi)

Kopi Pagi hari ini. (Sumber: Poskota/Arif Setiadi)

POSKOTA.CO.ID - “Sikap empati perlu digerakan tak hanya di kalangan elite politik dan pejabat publik dengan keteladanan aksi yang diberikan, juga digelorakan dalam kehidupan bermasyarakat. Lebih luas lagi dalam berbangsa dan bernegara," kata Harmoko.

Kondisi dunia yang sedang tidak baik-baik saja, jika tidak disebut krisis, turut berdampak kepada kondisi nasional negeri kita. Tak hanya menyangkut ekonomi dan perdagangan, juga ditengarai berimbas kepada melemahnya etika publik dan menurunnya penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Sementara tingginya penghargaan terhadap nilai-nlai kemanusian dapat mencegah konflk sosial, membangun harmoni dan kolaborasi, memperkuat solidaritas dan kebersamaan.

Dapat dikatakan nilai–nilai kemanusiaan merupakan kekuatan sosial dalam membangun negeri, mendorong terwujudnya keadilan sosial dan kemakmuran bersama. Cukup beralasan, jika para pendiri negeri sejak awal menempatkan kemanusiaan yang adil dan beradab pada sila kedua falsafah bangsa kita.

Baca Juga: Kopi Pagi: Peduli Nelayan

Nilai-nilai kemanusiaan (human values) tak hanya perlu diupdate dengan situasi kekinian, tetapi yang lebih utama diamalkan karena semakin menjadi relevan untuk situasi sekarang, di mana masih banyak warga yang semakin terpinggirkan secara sosial dan ekonomi.

Mereka terpinggirkan bukan karena sedang diisolasi, tetapi beban hidup yang semakin meninggi. Meski kita tidak memungkiri berbagai program unggulan sedang digencarkan untuk melindungi warganya yang selama ini terpinggirkan karena beban sosial ekonomi.

Tentu program pengentasan kemiskinan, pemerataan pendapatan dan upaya mengatasi kesenjangan dengan tujuan akhir keadilan dan kemakmuran, memerlukan keterlibatan semua elemen bangsa.

Partisipasi aktif publik perlu dibangun dengan mengedepankan kejujuran dan keterbukaan, menghargai perbedaan, termasuk penghargaan terhadap nilai–nilai kemanusiaan.

Baca Juga: Kopi Pagi: Lebaran Politik

Nilai kemanusian sejatinya bentuk empati dan kepedulian yang melekat pada diri masing-masing individu kepada lingkungan sekitarnya. Bagi elite dan pejabat publik, tentu empati kepada rakyatnya, tak hanya melalui kebijakan yang digulirkan, juga ucapan dan perbuatan  yang dipertontonkan di depan publik.

Yang dibutuhkan sekarang bukan sebatas politik tebar simpati, tetapi lebih kepada aksi tebar empati. Ini menjadi hal yang paling mendesak dalam kehidupan bernegara, terlebih dalam situasi sekarang ini, di tengah situasi dunia yang kian tidak pasti, yang dampaknya sudah dirasakan kita semua.

Empati bukan sekadar slogan moral, ia merupakan strategi kebijakan dan dasar keadilan sosial. Empati yang dalam kehidupan sehari-hari diartikan sebagai upaya ikut merasakan derita orang lain seolah-olah derita diri sendiri.

Berarti ada kemampuan melihat derita orang lain, melibatkan emosi dan kesulitan yang dialami seseorang, kemudian ikut merasakan apa yang mereka rasakan. Dengan empati akan tergerak hati ikut membantu orang lain. Tidak sebatas rasa iba dan kasihan sebagaimana simpati.

Kebijakan yang tidak mampu merespon penderitaan rakyat, prioritas kebutuhan rakyat, kehendak rakyat, bisa disebut bukan kebijakan empati. Terlebih jika hanya menguntungkan sekelompok elite (oligarki).

Kebijakan empati harus menyentuh hal fitrawi publik tanpa ada pembedaan perlakuan. Dan lagi, membangun kebijakan empati membutuhkan ketulusan dan keikhlasan, juga waktu yang tepat. Bukan atas dasar pencitraan berharap sanjungan dan imbalan.

Itu pula ajaran para pendiri bangsa yang telah tertuang dalam pedoman dasar berbangsa dan bernegara, yang telah dilegalkan melalui Pembukaan UUD 1945, Pancasila dan aturan negara lainnya.

Sikap empati perlu digerakan tak hanya di kalangan elite politik dan pejabat publik dengan keteladanan aksi yang diberikan, juga digelorakan dalam kehidupan bermasyarakat. Lebih luas lagi dalam berbangsa dan bernegara, seperti dikatakan Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.

Kita meyakini setiap individu, warga Indonesia, sesuai jati dirinya, memiliki potensi besar untuk berempati. Hanya saja, kerap potensi diri ini sudah cukup nyaman tersimpan dalam diri, sehingga tidak atau kurang diberdayakan.

Lagi-lagi dapat kita katakan segudang potensi diri tak akan berarti apa-apa, jika tidak diamalkan dalam kehidupan yang nyata. Tidak ubahnya seseorang yang memiliki beragam ilmu tapi tidak ditularkan.

Memiliki banyak harta benda cuma disimpan, tidak dimanfaatkan, memiliki banyak buku tidak pernah dibaca, memiliki banyak baju di lemari, tidak pernah sekali pun dipakai.

Yang hendak saya katakan adalah setiap orang, siapa pun dia, memiliki potensi diri berupa kemampuan apa pun bentuknya. Menjadi terpendam, karena boleh jadi belum diaplikasikan dalam kehidupan nyata untuk kepentingan banyak orang.

Begitu pun potensi diri berupa rasa empati dan peduli terhadap sesama yang masih tersembunyi. Itulah perlunya kesadaran untuk  membuat potensi menjadi nyata dengan mengamalkannya. Sekecil apa pun bentuk kepedulian akan sangat berharga bagi orang lain.

Sebersit rasa empati akan menjadi sangat berarti bagi orang lain, yang boleh jadi tidak kita sadari. Yang perlu dijaga, peduli dengan orang lain, lingkungan tidak harus ikut campur urusan orang lain, apalagi yang bersifat pribadi.

Jangan sampai terjadi, maksud hati ingin peduli malah dibenci, karena salah memahami dan dianggap ikut campur urusan orang lain. Semua itu kuncinya ada di komunikasi, bagaimana mengamalkan empati dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Mari kita mulai. (Azisoko)


Berita Terkait


undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Cek Ombak 2029

Kamis 22 Jan 2026, 08:28 WIB
undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Hadirkan Rasa Malu

Kamis 29 Jan 2026, 08:23 WIB
undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Selaraskan Ambang Batas

Senin 02 Feb 2026, 06:27 WIB
undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Daulat Ekonomi Rakyat

Kamis 05 Feb 2026, 09:51 WIB

News Update