Yang dibutuhkan sekarang bukan sebatas politik tebar simpati, tetapi lebih kepada aksi tebar empati. Ini menjadi hal yang paling mendesak dalam kehidupan bernegara, terlebih dalam situasi sekarang ini, di tengah situasi dunia yang kian tidak pasti, yang dampaknya sudah dirasakan kita semua.
Empati bukan sekadar slogan moral, ia merupakan strategi kebijakan dan dasar keadilan sosial. Empati yang dalam kehidupan sehari-hari diartikan sebagai upaya ikut merasakan derita orang lain seolah-olah derita diri sendiri.
Berarti ada kemampuan melihat derita orang lain, melibatkan emosi dan kesulitan yang dialami seseorang, kemudian ikut merasakan apa yang mereka rasakan. Dengan empati akan tergerak hati ikut membantu orang lain. Tidak sebatas rasa iba dan kasihan sebagaimana simpati.
Kebijakan yang tidak mampu merespon penderitaan rakyat, prioritas kebutuhan rakyat, kehendak rakyat, bisa disebut bukan kebijakan empati. Terlebih jika hanya menguntungkan sekelompok elite (oligarki).
Kebijakan empati harus menyentuh hal fitrawi publik tanpa ada pembedaan perlakuan. Dan lagi, membangun kebijakan empati membutuhkan ketulusan dan keikhlasan, juga waktu yang tepat. Bukan atas dasar pencitraan berharap sanjungan dan imbalan.
Itu pula ajaran para pendiri bangsa yang telah tertuang dalam pedoman dasar berbangsa dan bernegara, yang telah dilegalkan melalui Pembukaan UUD 1945, Pancasila dan aturan negara lainnya.
Sikap empati perlu digerakan tak hanya di kalangan elite politik dan pejabat publik dengan keteladanan aksi yang diberikan, juga digelorakan dalam kehidupan bermasyarakat. Lebih luas lagi dalam berbangsa dan bernegara, seperti dikatakan Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.
Kita meyakini setiap individu, warga Indonesia, sesuai jati dirinya, memiliki potensi besar untuk berempati. Hanya saja, kerap potensi diri ini sudah cukup nyaman tersimpan dalam diri, sehingga tidak atau kurang diberdayakan.
Lagi-lagi dapat kita katakan segudang potensi diri tak akan berarti apa-apa, jika tidak diamalkan dalam kehidupan yang nyata. Tidak ubahnya seseorang yang memiliki beragam ilmu tapi tidak ditularkan.
Memiliki banyak harta benda cuma disimpan, tidak dimanfaatkan, memiliki banyak buku tidak pernah dibaca, memiliki banyak baju di lemari, tidak pernah sekali pun dipakai.
Yang hendak saya katakan adalah setiap orang, siapa pun dia, memiliki potensi diri berupa kemampuan apa pun bentuknya. Menjadi terpendam, karena boleh jadi belum diaplikasikan dalam kehidupan nyata untuk kepentingan banyak orang.
Begitu pun potensi diri berupa rasa empati dan peduli terhadap sesama yang masih tersembunyi. Itulah perlunya kesadaran untuk membuat potensi menjadi nyata dengan mengamalkannya. Sekecil apa pun bentuk kepedulian akan sangat berharga bagi orang lain.
