Mulai Tahun Depan HP Wajib Pakai Baterai Lepas Pasang, Apa Dampaknya untuk Pengguna?

Jumat 24 Apr 2026, 07:30 WIB
Ilustrasi pengguna mengganti baterai smartphone secara mandiri sebagai dampak kebijakan “Right to Repair” Uni Eropa yang mulai berlaku 2027. (Sumber: Pexels)

Ilustrasi pengguna mengganti baterai smartphone secara mandiri sebagai dampak kebijakan “Right to Repair” Uni Eropa yang mulai berlaku 2027. (Sumber: Pexels)

POSKOTA.CO.ID - Uni Eropa kembali mendorong perubahan besar dalam industri teknologi. Mulai 2027, produsen elektronik termasuk smartphone wajib menghadirkan baterai yang bisa dilepas dan diganti pengguna. Kebijakan ini merupakan kelanjutan dari regulasi yang disahkan pada 2023 dalam kerangka “Right to Repair”, sebuah gerakan yang bertujuan memperpanjang usia perangkat sekaligus menekan limbah elektronik.

Dalam praktiknya, aturan ini tidak sekadar soal membuka casing ponsel seperti era lama. Uni Eropa menetapkan bahwa baterai harus dapat diganti tanpa alat khusus atau jika membutuhkan alat, maka alat tersebut wajib disertakan gratis dalam kemasan.

Artinya, produsen tetap boleh menggunakan desain tertutup dengan sekrup atau pengait, namun akses ke baterai harus tetap mudah bagi pengguna.

Baca Juga: Harga Bertambah Mahal, Omzet Pedagang Pupuk di Jakbar Justru Berkurang

Langkah ini muncul dari masalah klasik yang terus berulang: degradasi baterai. Seiring waktu, kapasitas baterai menurun dan sering kali menjadi alasan utama pengguna mengganti perangkat. Dengan baterai yang dapat dilepas, konsumen tidak lagi harus membeli ponsel baru hanya karena performa baterai menurun.

Meski regulasi ini hanya berlaku di Uni Eropa, dampaknya diperkirakan meluas secara global. Industri teknologi saat ini mengandalkan produksi massal lintas negara. Perubahan desain untuk satu kawasan besar seperti Eropa berpotensi diadopsi secara global demi efisiensi produksi.

Sejumlah analis menilai, produsen kemungkinan tidak akan membuat dua versi perangkat berbeda hanya untuk memenuhi regulasi regional. Akibatnya, konsumen di luar Eropa pun berpeluang menikmati desain baterai yang lebih mudah diganti.

Tak hanya smartphone dan tablet, aturan ini juga menyasar perangkat lain seperti kacamata pintar hingga konsol game generasi terbaru. Bahkan, rumor menyebut pengembangan konsol seperti penerus Nintendo Switch sudah mulai mempertimbangkan kemudahan penggantian baterai sejak tahap desain awal.

Namun, aturan ini tidak sepenuhnya tanpa pengecualian. Uni Eropa memberikan kelonggaran bagi perangkat dengan daya tahan baterai tinggi yakni yang mampu mempertahankan minimal 80 persen kapasitas setelah 1.000 siklus pengisian.

Dalam konteks ini, Apple menjadi salah satu produsen yang berpotensi memanfaatkan celah tersebut. Berdasarkan dokumen resmi perusahaan, lini iPhone terbaru telah memenuhi standar daya tahan tersebut.

Calon CEO Apple, John Ternus, sebelumnya menyatakan dukungan terhadap konsep perbaikan perangkat. Namun ia menegaskan bahwa daya tahan produk secara keseluruhan tetap menjadi prioritas utama dibanding sekadar kemudahan bongkar pasang.

Baca Juga: Main Hujan di Aliran Kali, Bocah 4 Tahun asal Bogor Hanyut Terbawa Air

Respons Konsumen: Lebih Ramah dan Hemat

Di sisi pengguna, kebijakan ini mendapat respons positif. Diskusi di berbagai forum teknologi menunjukkan antusiasme terhadap kemudahan mengganti baterai secara mandiri. Banyak yang menilai, baterai adalah komponen paling cepat aus dalam siklus hidup smartphone.

Dengan aturan ini, pengguna dapat memperpanjang usia perangkat tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk membeli unit baru. Selain itu, langkah ini juga dinilai lebih ramah lingkungan karena mengurangi volume limbah elektronik yang terus meningkat setiap tahun.

Regulasi ini dijadwalkan mulai berlaku efektif pada Februari 2027. Artinya, perangkat generasi mendatang yang saat ini masih dalam tahap pengembangan sudah harus menyesuaikan desainnya.

Bagi industri, ini bukan sekadar perubahan teknis, melainkan pergeseran filosofi desain: dari perangkat tertutup menuju produk yang lebih terbuka, mudah diperbaiki, dan berkelanjutan.


Berita Terkait


News Update