Ia menyampaikan, 60 tahun perjalanan Horison mencerminkan bentangan sejarah pemikiran, pergulatan estetik, dan jejak intelektual yang membentuk wajah sastra Indonesia.
"Tema “Yang Terbit, Yang Tenggelam” dipandang sebagai refleksi atas dialektika antara yang diingat dan yang dilupakan, sekaligus penegasan bahwa setiap karya tetap memiliki nilai sebagai artefak kebudayaan," kata Nasruddin dalam keterangan tertulis, Kamis, 23 April 2026.
Ia juga menekankan pentingnya memperkuat dokumentasi, mendorong lahirnya generasi penulis baru, serta memperluas akses masyarakat terhadap sastra melalui inovasi layanan, baik fisik maupun digital.
Sementara itu, Pemimpim Redaksi Horison Jamal D. Rahman dalam pidatonya, menempatkan pameran ini sebagai ruang kejujuran sejarah. Pameran ini tidak hanya merayakan keberhasilan, tetapi juga mengakui kegagalan dan ketidaksempurnaan dalam perjalanan sebuah majalah sastra.
Ia menyampaikan bahwa di balik setiap karya yang terbit terdapat lautan naskah dan mimpi yang tenggelam. Pengakuan terhadap hal tersebut merupakan bagian dari integritas kebudayaan.
"Pameran ini tidak hanya merayakan keberhasilan, tetapi juga mengakui kegagalan dan ketidaksempurnaan dalam perjalanan sebuah majalah sastra," kata Jamal.
Jamal juga menegaskan bahwa Horison dan H.B. Jassin mewariskan prinsip penting dalam menjaga bahasa Indonesia. Bahasa boleh bersifat profan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi tidak boleh kehilangan kebersihan, kejujuran, dan martabatnya.
Dalam refleksinya, ia melihat pameran ini sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan. Ia juga menyebut bahwa pameran ini membuka kemungkinan baru bagi keberlanjutan Horison di tengah perubahan lanskap media dan budaya.
“Pameran ini tidak hanya merayakan keberhasilan, tetapi juga mengakui kegagalan dan ketidaksempurnaan dalam perjalanan sebuah majalah sastra," kata Jamal.
Melalui pameran ini, Perpustakaan Jakarta dan PDS H.B. Jassin tidak hanya menghadirkan arsip sebagai objek yang dipamerkan.
Arsip dihadirkan sebagai medium dialog yang menghubungkan generasi, membuka ruang tafsir, dan mendorong keterlibatan publik dalam membaca ulang sejarah sastra Indonesia.
Pameran ini diharapkan menjadi ruang yang tidak hanya mengenang, tetapi juga menumbuhkan kembali semangat berkarya, memperkuat literasi, serta memperluas kesadaran akan pentingnya menjaga bahasa dan kebudayaan di tengah perubahan zaman.
