Dewa United Resmi Bawa Kasus Tendangan Kungfu EPA U-20 ke Ranah Hukum

Senin 20 Apr 2026, 23:27 WIB
Fadly Alberto viral usai tendang pemain Dewa United. (Sumber: X/@FaktaSepakbola)

Fadly Alberto viral usai tendang pemain Dewa United. (Sumber: X/@FaktaSepakbola)

POSKOTA.CO.ID - Insiden kekerasan kembali mencoreng sepak bola usia muda Indonesia. Manajemen Dewa United memastikan akan menempuh jalur hukum menyusul aksi brutal yang terjadi dalam laga Elite Pro Academy (EPA) U-20 2026 melawan Bhayangkara FC. Pertandingan yang digelar di Stadion Citarum pada Minggu (19/4) itu berubah panas setelah keputusan wasit memicu protes.

Awalnya, ketegangan muncul dari kubu Bhayangkara FC yang mempertanyakan gol Dewa United karena dinilai berbau offside. Protes tersebut tak berhenti pada adu argumen. Situasi dengan cepat memanas dan berujung bentrokan fisik antarpemain di lapangan.

Dalam rekaman video yang beredar luas di media sosial, terlihat salah satu pemain melakukan tendangan keras yang disebut-sebut sebagai “tendangan kungfu”. Aksi tersebut memicu reaksi berantai, termasuk keterlibatan staf pelatih dari salah satu tim dalam kericuhan.

Baca Juga: Dua Gol Diprotes, Alex Dikartu Merah: Ini 3 Kontroversi Besar Dewa United vs Persib

Sikap Resmi Klub dan Dorongan Investigasi

Presiden klub Dewa United, Ardian Satya Negara, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menganggap insiden ini sebagai hal sepele. Ia menyebut langkah hukum menjadi bagian dari upaya menjaga integritas kompetisi usia muda.

“Manajemen Dewa United akan secara resmi melayangkan protes kepada operator liga serta mendorong adanya investigasi dan sanksi tegas,” ujar Ardian dalam keterangan resmi, Senin, 20 April 2026.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa proses hukum akan ditempuh terhadap siapa pun yang terbukti terlibat dalam aksi kekerasan tersebut.

“Selain itu, kami juga akan menempuh jalur hukum terhadap seluruh pihak yang terbukti terlibat dalam tindakan kekerasan ini,” katanya.

Kekerasan di Sepak Bola Usia Muda Jadi Sorotan

Bagi Dewa United, insiden ini bukan sekadar pelanggaran dalam pertandingan, melainkan masalah serius yang menyentuh aspek pembinaan pemain muda. Ardian menilai, kekerasan yang terjadi justru bertentangan dengan nilai dasar olahraga.

“Kami mengecam keras insiden kekerasan yang terjadi di Semarang. Tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan, terlebih terjadi dalam kompetisi usia muda,” ujarnya.

Ia juga menyoroti keterlibatan pihak pelatih dalam kericuhan, yang seharusnya berperan sebagai panutan bagi pemain.

“Kami sangat menyayangkan adanya tindakan kekerasan. Apalagi itu dilakukan pemain maupun pihak pelatih yang seharusnya mampu menjaga situasi tetap kondusif,” ucap Ardian.

Baca Juga: Hadapi Musim Kemarau Panjang, Sudin KPKP Jakbar Minta Kelompok Tani Beri Tahu Kendala

Harapan untuk Pembinaan yang Lebih Baik

Kasus ini menjadi pengingat bahwa kompetisi usia muda bukan hanya soal hasil pertandingan, tetapi juga pembentukan karakter. Dewa United berharap operator liga segera mengambil langkah tegas agar kejadian serupa tidak terulang.

Menurut Ardian, sepak bola Indonesia terutama di level akar rumput sedang berada dalam fase perkembangan positif. Karena itu, insiden kekerasan dinilai dapat merusak proses pembinaan yang sedang dibangun.

“Sepak bola Indonesia, khususnya di level akar rumput, sedang berkembang ke arah yang lebih baik. Karena itu, kami menegaskan bahwa insiden seperti ini tidak boleh terulang,” katanya.

Langkah hukum yang ditempuh Dewa United kini menjadi sorotan, sekaligus ujian bagi komitmen semua pihak dalam menjaga sportivitas dan keamanan di kompetisi usia muda.


Berita Terkait


News Update