Kesehatan Mental Warga Jakarta Tertekan, Faktor Macet dan Pekerjaan Dominan

Sabtu 18 Apr 2026, 23:04 WIB
Ilustrasi pekerja di Jakarta. (Sumber: Poskota/Bilal Nugraha Ginanjar)

Ilustrasi pekerja di Jakarta. (Sumber: Poskota/Bilal Nugraha Ginanjar)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Tekanan hidup di kota metropolitan seperti Jakarta kian terasa kompleks, mulai beban ekonomi, kemacetan, tuntutan pekerjaan, hingga terbatasnya ruang hidup yang sehat.

Kondisi ini turut berdampak pada kesehatan mental masyarakat. Sejumlah survei nasional bahkan menunjukkan tren peningkatan gangguan kesehatan mental, dengan Jakarta menjadi salah satu barometer kondisi tersebut di Indonesia.

Padatnya aktivitas harian serta tingginya mobilitas warga disebut menjadi faktor utama yang memicu tekanan psikologis.

Hal ini dirasakan Amir, 29 tahun, seorang pekerja yang setiap hari harus menghadapi kemacetan di ibu kota. Ia mengaku, tekanan paling terasa justru datang dari rutinitas di jalan.

Baca Juga: Gubernur Pramono Anung Dorong BUMD Jakarta Berani Ekspansi

“Kalau tekanan itu biasanya di macet, apalagi pagi pas mau berangkat sama sore pulang kerja, itu udah pasti macet, nggak mungkin dihindarin,” ujar Amir kepada Poskota, Sabtu, 18 April 2026.

Menurut Amir, kemacetan di Jakarta seakan menjadi hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut kerap memicu emosi hingga rasa jenuh di perjalanan.

“Jakarta itu kan udah pasti macet di mana-mana, nggak mungkin nggak macet. Itu kadang yang bikin kesel di jalan, stres juga pasti,” ujarnya.

Meski demikian, ia belum pernah mengalami stres berat. Namun, stres ringan hingga sedang cukup sering ia rasakan, terutama setelah pulang kerja.

Baca Juga: Pendapatan DKI Rp9,57 Triliun, Pramono Sebut Ekonomi Jakarta Tahan Tekanan Global

“Kalau stres berat nggak pernah sih, cuma kalau stres biasa gitu habis balik kerja sering. Ya karena itu macet, orang nyetir kan otomatis enggak mau ngalah, maunya cepat-cepat sampai rumah,” ucapnya.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, ia memiliki cara sederhana agar tetap bisa menjaga keseimbangan mental di tengah padatnya aktivitas kota.

“Biasanya ngatasinnya itu kayak minggir di jalan bentar buat ngopi di starling, kopi keliling, buat ngehilangin penat,” tuturnya.

Selain itu, ia juga rutin berolahraga saat akhir pekan guna menjaga kebugaran fisik dan menyegarkan pikiran.

“Terus juga kayak weekend gini, setiap pagi olahraga biar fresh pikiran,” ucap dia.

Hal serupa juga dirasakan Rizki, 25 tahun. Ia menilai tekanan hidup di Jakarta tidak hanya berasal dari kemacetan, tetapi juga dari tuntutan pekerjaan dan ritme hidup yang cepat.

Baca Juga: Pramono Waspadai Dampak El Nino, Pangan dan Kesehatan Jadi Problem Utama

“Kalau di Jakarta itu bukan cuma macet, tapi tekanan kerja juga kerasa. Kadang pikiran kebawa terus walaupun sudah di rumah,” katanya.

Ia mengatakan, kondisi tersebut kerap membuatnya merasa lelah secara mental, terutama ketika pekerjaan menumpuk dan waktu istirahat terbatas.

“Capeknya itu bukan cuma fisik, tapi pikiran juga. Apalagi kalau kerjaan lagi banyak, bisa kepikiran terus,” ujar dia.

Rizki terus mencari keseimbangan dengan melakukan aktivitas yang ia sukai di luar pekerjaan.

“Biasanya sih cari hiburan, kayak nongkrong sama teman atau sekadar jalan-jalan biar enggak jenuh,” katanya. (cr-4)


Berita Terkait


News Update