Untuk mengatasi kondisi tersebut, ia memiliki cara sederhana agar tetap bisa menjaga keseimbangan mental di tengah padatnya aktivitas kota.
“Biasanya ngatasinnya itu kayak minggir di jalan bentar buat ngopi di starling, kopi keliling, buat ngehilangin penat,” tuturnya.
Selain itu, ia juga rutin berolahraga saat akhir pekan guna menjaga kebugaran fisik dan menyegarkan pikiran.
“Terus juga kayak weekend gini, setiap pagi olahraga biar fresh pikiran,” ucap dia.
Hal serupa juga dirasakan Rizki, 25 tahun. Ia menilai tekanan hidup di Jakarta tidak hanya berasal dari kemacetan, tetapi juga dari tuntutan pekerjaan dan ritme hidup yang cepat.
Baca Juga: Pramono Waspadai Dampak El Nino, Pangan dan Kesehatan Jadi Problem Utama
“Kalau di Jakarta itu bukan cuma macet, tapi tekanan kerja juga kerasa. Kadang pikiran kebawa terus walaupun sudah di rumah,” katanya.
Ia mengatakan, kondisi tersebut kerap membuatnya merasa lelah secara mental, terutama ketika pekerjaan menumpuk dan waktu istirahat terbatas.
“Capeknya itu bukan cuma fisik, tapi pikiran juga. Apalagi kalau kerjaan lagi banyak, bisa kepikiran terus,” ujar dia.
Rizki terus mencari keseimbangan dengan melakukan aktivitas yang ia sukai di luar pekerjaan.
“Biasanya sih cari hiburan, kayak nongkrong sama teman atau sekadar jalan-jalan biar enggak jenuh,” katanya. (cr-4)
