JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Tekanan hidup di kota metropolitan seperti Jakarta kian terasa kompleks, mulai beban ekonomi, kemacetan, tuntutan pekerjaan, hingga terbatasnya ruang hidup yang sehat.
Kondisi ini turut berdampak pada kesehatan mental masyarakat. Sejumlah survei nasional bahkan menunjukkan tren peningkatan gangguan kesehatan mental, dengan Jakarta menjadi salah satu barometer kondisi tersebut di Indonesia.
Padatnya aktivitas harian serta tingginya mobilitas warga disebut menjadi faktor utama yang memicu tekanan psikologis.
Hal ini dirasakan Amir, 29 tahun, seorang pekerja yang setiap hari harus menghadapi kemacetan di ibu kota. Ia mengaku, tekanan paling terasa justru datang dari rutinitas di jalan.
Baca Juga: Gubernur Pramono Anung Dorong BUMD Jakarta Berani Ekspansi
“Kalau tekanan itu biasanya di macet, apalagi pagi pas mau berangkat sama sore pulang kerja, itu udah pasti macet, nggak mungkin dihindarin,” ujar Amir kepada Poskota, Sabtu, 18 April 2026.
Menurut Amir, kemacetan di Jakarta seakan menjadi hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut kerap memicu emosi hingga rasa jenuh di perjalanan.
“Jakarta itu kan udah pasti macet di mana-mana, nggak mungkin nggak macet. Itu kadang yang bikin kesel di jalan, stres juga pasti,” ujarnya.
Meski demikian, ia belum pernah mengalami stres berat. Namun, stres ringan hingga sedang cukup sering ia rasakan, terutama setelah pulang kerja.
Baca Juga: Pendapatan DKI Rp9,57 Triliun, Pramono Sebut Ekonomi Jakarta Tahan Tekanan Global
“Kalau stres berat nggak pernah sih, cuma kalau stres biasa gitu habis balik kerja sering. Ya karena itu macet, orang nyetir kan otomatis enggak mau ngalah, maunya cepat-cepat sampai rumah,” ucapnya.
