Obrolan Warteg: Melihat Belum Tentu Terlibat

Sabtu 11 Apr 2026, 09:53 WIB
Ilustrasi obrolan warteg edisi Sabtu, 11 April 2026. (Sumber: Poskota/Arif Setiadi)

Ilustrasi obrolan warteg edisi Sabtu, 11 April 2026. (Sumber: Poskota/Arif Setiadi)

Oleh :Joko Lestari

POSKOTA.CO.ID  – Jika dikatakan politik sekarang ini ada di mana – mana tidaklah salah. Bila dimaknai politik itu tak hanya menyangkut soal – soal kekuasaan, pemerintahan, DPR/MPR , pemilu, pilpres, pilkada serta partai politik.

Terlebih tujuan utama politik adalah untuk menciptakan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh warga negara. Bahkan, dalam sejarahnya politik sebagai sarana mencapai kebaikan bersama – the common good.

Itulah sebabnya perbincangan politik bisa terjadi di mana – mana, di warteg, warung kaki lima hingga hotel berbintang lima. Dari balai desa hingga istana negara.

“Ngomongin harga kantong plastik naik, itu juga soal politik, utamanya bagaimana politik negara dalam melindungi rakyatnya dari berbagai kemungkinan gejolak harga sebagai imbas krisis energi dunia,” kata bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Bijak Manfaatkan Kecerdasan Buatan

“Mengapresiasi kebijakan pemerintah yang tidak menaikkan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun 2026, meski harga minyak dunia melonjak, itu juga tak lepas dari politik nasional dan global,” tambah Yudi.

“Artinya hal – hal yang terkait dengan setiap warga negara, kepentingan rakyat, mewujudkan kebaikan bersama, itu soal politik. Begitu juga mendiskusikan soal kebijakan dan pelaksanaan kebijakan pemerintah, pelayanan publik mulai dari tingkat desa hingga istana,” urai mas Bro.

“Jadi politik itu tak hanya tampil di berita – berita, debat formal di televisi dengan tema tertentu, juga hadir di media sosial seperti Instagram, TikTok dan video hiburan yang kita tonton setiap hari lewat layar ponsel,” jelas Heri.

“Betul juga. Lewat layar ponsel kita sering dapat postingan soal isu – isu politik yang sedang hangat dan viral jadi perbincangan publik. Mencuat pro dan kontra dengan isu dimaksud, itulah demokrasi,” ujar mas Bro.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Lahan Negara Untuk Rumah Rakyat

“Lantas bagaimana politik kita dalam menyikapi isu politik yang berkembang?,” tanya Yudi.

“Kalau aku dapat postingan video politik yang sifatnya memaki – maki langsung delete, ketimbang menghabiskan kuota dan memenuhi layar ponsel. Kan ketahuan dari judulnya,” jawab Heri.

“Kalau postingan itu ada di grup, WAG, aku scroll aja, tak perlu parkir, apalagi membukanya. Sayang kuota habis hanya untuk menonton isu yang tidak jelas sumbernya. Kadang kepengin rasanya men-delete, tapi kan nggak etis jika postingan itu ada di grup, bener nggak?,” kata Yudi.

“Jadi isu politik makin dekat dan lebih mudah diakses, seolah tiada hari tanpa isu politik, tetapi melihat belum tentu ikut terlibat, karena tadi tak sedikit yang cuma scroll. Maknanya politik ada di mana – mana, belum tentu linier dengan tingkat partisipasi politik masyarakat,” urai mas Bro.

“Yang mencuat kemudian rasa suka dan tidak suka, setuju dan tidak setuju, memaki dan memuji silih berganti, terlebih terhadap konten yang menguras emosi, bikin gemes, marah dan sedih , biasanya cepat viral,” urai Heri.


Berita Terkait


News Update