“Lantas bagaimana politik kita dalam menyikapi isu politik yang berkembang?,” tanya Yudi.
“Kalau aku dapat postingan video politik yang sifatnya memaki – maki langsung delete, ketimbang menghabiskan kuota dan memenuhi layar ponsel. Kan ketahuan dari judulnya,” jawab Heri.
“Kalau postingan itu ada di grup, WAG, aku scroll aja, tak perlu parkir, apalagi membukanya. Sayang kuota habis hanya untuk menonton isu yang tidak jelas sumbernya. Kadang kepengin rasanya men-delete, tapi kan nggak etis jika postingan itu ada di grup, bener nggak?,” kata Yudi.
“Jadi isu politik makin dekat dan lebih mudah diakses, seolah tiada hari tanpa isu politik, tetapi melihat belum tentu ikut terlibat, karena tadi tak sedikit yang cuma scroll. Maknanya politik ada di mana – mana, belum tentu linier dengan tingkat partisipasi politik masyarakat,” urai mas Bro.
“Yang mencuat kemudian rasa suka dan tidak suka, setuju dan tidak setuju, memaki dan memuji silih berganti, terlebih terhadap konten yang menguras emosi, bikin gemes, marah dan sedih , biasanya cepat viral,” urai Heri.
