POSKOTA.CO.ID - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran menyampaikan pernyataan tegas terkait masa depan Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis ini selama ini dikenal sebagai salah satu titik paling vital dalam distribusi energi global.
Iran menegaskan bahwa kondisi di selat tersebut tidak akan kembali normal seperti sebelumnya, terutama bagi kapal-kapal yang berasal dari Amerika Serikat dan Israel.
Pernyataan ini langsung memicu perhatian dunia karena potensi dampaknya terhadap stabilitas kawasan dan ekonomi internasional.
Sikap tegas tersebut disampaikan oleh Korps Garda Revolusi Islam yang mengindikasikan adanya perubahan besar dalam sistem keamanan dan aturan pelayaran di wilayah Teluk Persia dalam waktu dekat.
Baca Juga: Umrah Dibatasi Mulai 18 April 2026, Arab Saudi Hanya Izinkan Warga Lokal
Iran Siapkan Tatanan Baru di Selat Hormuz
Dalam pernyataan resmi yang diunggah melalui media sosial, pihak IRGC mengungkapkan bahwa mereka kini berada pada tahap akhir persiapan untuk menerapkan “tatanan baru” di Selat Hormuz.
Kebijakan ini tidak muncul secara tiba-tiba. Sebelumnya, parlemen Iran telah memberikan persetujuan awal terhadap rancangan undang-undang yang berpotensi mengubah aturan lintasan kapal di wilayah tersebut.
Salah satu poin utama dalam rancangan tersebut adalah rencana penerapan biaya transit bagi setiap kapal yang melintas. Selain itu, kapal juga diwajibkan melakukan pembayaran menggunakan mata uang nasional Iran, yaitu rial.
Tidak hanya soal biaya, aturan baru ini juga membuka kemungkinan pembatasan bahkan pelarangan bagi kapal-kapal yang berasal dari Amerika Serikat, Israel, serta negara-negara yang terlibat dalam sanksi terhadap Iran.
Baca Juga: Filipina Tetapkan Darurat Energi Imbas Konflik Timur Tengah, Siap Tambah Impor Batu Bara dari RI
Dampak Besar bagi Perdagangan dan Energi Global
Jika kebijakan ini benar-benar diberlakukan, dampaknya diperkirakan akan sangat luas. Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai jalur utama pengiriman minyak dunia, sehingga setiap gangguan di wilayah ini berpotensi memicu lonjakan harga energi global.
